Coffee First, Drama Later

Coffee First, Drama Later

  • WpView
    Reads 64
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 17, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Pernah merasa nggak, kopi yang kamu minum terasa manis padahal tanpa gula? atau kopimu terasa hangat di hati, padahal itu iced coffee? Itulah yang dirasakan Rafa Aditya Kusuma, seorang karyawan senior divisi marketing di TokoAja, salah satu e-commerce besar di Indonesia, ketika jatuh cinta kepada Rania, barista misterius di Kelana Coffee, coffee shop baru dekat kantornya. Rafa kini punya misi penting di hari-harinya, datang ke coffee shop, pesan satu iced americano sambil mencuri momen deketin Rania. Namun ketika usahanya berhasil dan Rania mulai luluh, gangguan-gangguan tak diundang datang menghadapi mereka. Seperti Almira, teman sekantor Rafa yang naksir Rafa, juga Clarissa, mantan Rafa yang belum move on dan nggak terima kalau Rafa jatuh cinta dengan orang lain. Diwarnai oleh candaan, gombalan, keraguan dan keyakinan, dalam kisah hangat antara Rafa dan Rania, bisakah mereka menghadapi rintangan yang datang dan percaya satu sama lain?
All Rights Reserved
#399
office
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Kembang Desa
  • Prahara Lamaran [END]
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Salah Status [END]
  • Nakula

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines