Catatan dari Kursi Roda

Catatan dari Kursi Roda

  • WpView
    Reads 10
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 18, 2025
“Aku menulis bukan karena aku sempurna. Aku menulis karena aku ingin didengar.” Namaku Yayuk. Dari balik jendela kamar dan di atas kursi roda ini, aku belajar menulis—bukan sekadar kata-kata, tapi isi hati yang lama diam. Ini bukan kisah menyedihkan. Ini cerita tentang bagaimana aku bertahan saat dunia bilang aku lemah. Tentang tetangga julid yang suka mengatur hidup orang, teman-teman yang sok tahu, dan suara-suara kecil yang bilang aku nggak akan bisa. Tapi aku menulis, dan dari sana aku berdiri. Kalau kamu merasa sendirian, mungkin cerita ini bisa jadi bukti bahwa kamu nggak sendiri. Kadang yang kita butuh cuma satu: keberanian untuk bicara, dengan cara kita sendiri. Dari kursi rodaku, aku menulis. Dan ini ceritaku.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  • My Life
  • Self Injury's(complete)✔
  • Embun Purnama [Un-Publish]
  • T E R B U N U H   S E P I  || Z W E I T S O N •• U N 1 TY || E N D
  • Meet Again (SATZU)
  • The Love Story" Kurus & Mancung"
  • ALVIN (On Going)

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines