Langit Retak di mata Cahaya

Langit Retak di mata Cahaya

  • WpView
    Reads 265
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Mon, Jun 1, 2026
Caya mencintai alam, langit luas, dan ketenangan sunyi di puncak gunung. Di antara kabut dan api unggun, ia bertemu dua lelaki dari dunia berbeda-Sena yang diam-diam menjaga, dan Rangga yang terang-terangan mencintai. Tapi ketika cinta berubah menjadi pilihan hidup, tak semua luka bisa ditebak datangnya. Sena terlalu tenang untuk sekadar sahabat. Rangga terlalu sempurna untuk tak dicurigai. Dan Caya... mulai merasa langit dalam dirinya perlahan retak-oleh rahasia, oleh kenangan, oleh sesuatu yang tak berani ia sentuh. Ini bukan hanya kisah cinta, tapi tentang keputusan yang tak bisa diulang. Tentang seseorang yang kau kira akan tetap tinggal. Dan tentang sisi gelap dari cinta yang terlalu dalam untuk sekadar dikenang.
All Rights Reserved
#408
cahaya
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Villain Mother
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • De Andere Weg (END)
  • Almost Married (END)
  • The Last Yes!
  • Nala dan Mas Juragan
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Chasing Sanara

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines