Segelas Kopi Yang Pahit

Segelas Kopi Yang Pahit

  • WpView
    Reads 158
  • WpVote
    Votes 43
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, May 20, 2025
Senara tidak sedang mencari cinta. Ia hanya ingin menyelesaikan kuliahnya dan menyusun hidup yang tenang. Tapi pertemuannya dengan Suaka-lelaki pendiam pecinta Americano tanpa gula-mengubah segalanya. Mereka menjalin kedekatan tanpa definisi, menyesap kopi tanpa janji. Namun, di balik percakapan singkat dan diam yang hangat, tumbuh perasaan yang tak pernah benar-benar diucap. Hingga akhirnya, Senara harus belajar: bahwa tidak semua rasa harus manis untuk tetap diingat, dan tidak semua yang singgah akan bertahan. "Ini kisah tentang cinta yang tak sempat jadi milik, tentang doa yang lebih dulu sampai sebelum perasaan disampaikan."
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sepotong Kata yang Tak Selesai
  • My Possessive Friendzone ☑️
  • PACARNYA LOU
  • SECANGKIR KOPI SEBELUM PULANG || END
  • Tipis - Tipis [Completed]
  • If I Had to Choose
  • Satu Atap, Satu Hati
  • BRUNCH
  • AZAM : Satu Langit Dua Doa

Bagi Arai, menulis adalah sesuatu yang pribadi-sebuah dunia di mana ia bisa menyusun kata-kata tanpa harus menjelaskan dirinya pada siapa pun. Namun, ketika ia bergabung dengan ekstrakurikuler sastra di sekolahnya, ia mendapati bahwa menulis bukan lagi sekadar miliknya sendiri. Di sana, ia bertemu dengan Satria, seorang penulis berbakat yang kata-katanya terasa begitu nyata, tetapi selalu menyimpan sesuatu di baliknya. Dalam lembaran-lembaran kertas dan percakapan yang tak selalu terselesaikan, Arai mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tak terungkap di antara mereka. Sebuah perasaan yang tumbuh di antara baris-baris yang belum selesai. Namun, tidak semua kata bisa dengan mudah diucapkan, dan tidak semua cerita memiliki akhir yang mudah ditebak. Di antara kalimat yang tertunda dan perasaan yang enggan diakui, apakah mereka mampu menemukan kata-kata yang tepat? Atau justru membiarkan cerita ini tetap menjadi sepotong kalimat yang tak selesai?

More details
WpActionLinkContent Guidelines