Paper House

Paper House

  • WpView
    Reads 7
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 18, 2025
Aku tidak tahu jika datang ke London akan membuatku berhadapan dengan banyak hal baru. hal-hal yang membuatku makin tersadar kalau setiap manusia itu sama-sama merasakan kesedihannya masing-masing, tidak selalu hanya orang dewasa yang bertaruh dengan mentalnya, malangnya kenyataan pahit berkata kalau anak kecil pun juga mengalaminya. Disinilah sekarang tempatku berteduh dari hujan dan badai, panas dan dingin, yaitu rumah keluarga Phoenix. Rumah yang kalau di lihat dari jauh tampak baik-baik saja, namun semakin di dekati semuanya akan terasa jelas apa yang terjadi di dalamnya. Karakter dari setiap penghuninya sangat berbeda-beda. Sedihnya ada seseorang yang tidak tahu bagaimana caranya mengikhlaskan, dilain sisi ada seorang anak yang mengharapkan belas kasih lebih dari seorang Ayah.
All Rights Reserved
#128
london
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • TOO MUCH (Tamat)
  • DEMIGOD
  • BYE, MANTAN! (TAMAT)
  • Villain Also Has A Reason [END]
  • Juan [REVISI]
  • Suamiku Orang yang Menodaiku di Masa Lalu
  • Allea & Aksara
  • illusion of the heart
  • Menyesal Telah Menyakitimu
  • Bound To Protect

Why aku harus menjalani rentetan kesialan? Tidak bisakah aku sekadar bernapas tanpa perlu mencemaskan apa pun? Mengapa aku harus melanjutkan hidup sebagai karakter bodoh yang faaaaake banget, sih? Orang lain pasti mampu mengambil alih jalan cerita dan mencampai puncak kesuksesan. Namun, aku tidak begitu. Jangankan merancang rencana memperbaiki ekonomi, sekadar berusaha leher tidak kena tebas tokoh penting pun sulit! Aku bermaksud memperbaiki hubungan dengan tokoh penting. Barangkali semua masih bisa kuperbaiki sekalipun mustahil. Namun, lupakan saja! Bukannya penerimaan baik yang kuterima, justru ancaman mati konyol terpampang jelas di hadapanku. Oke, baiklah~ Aku menyerah! Selamat tinggal! Kalian, tokoh penting, ingin membenciku? Silakan saja. Bencilah diriku sepuas hati. Semua tokoh di sini sinting! Bila hidup memberiku lemon, cukup lempar lemonnya ke musuh. Beres!

More details
WpActionLinkContent Guidelines