Story cover for Kalopsia by _Ssalsabilla_
Kalopsia
  • WpView
    Reads 533
  • WpVote
    Votes 77
  • WpPart
    Parts 19
  • WpView
    Reads 533
  • WpVote
    Votes 77
  • WpPart
    Parts 19
Ongoing, First published May 19, 2025
Mature
[ Cerita ini mengandung 90% unsur bxb dan 10% unsur gxg serta melibatkan banyak adegan-adegan sensitif. Apabila cerita ini tidak sesuai dengan Anda, silakan tinggalkan ranah ini tanpa perlu mengotori tangan Anda dengan cara mengirimkan kalimat tidak manusiawi pada kolom komentar/pesan. ]

Manusia- diri-diri haus kesempurnaan di atas kecurangan semesta, dikendalikannya mulut-mulut agar melempari riuh paling memuakkan. Dia- katanya dunia- tak ubahnya sebuah tempat di mana sekumpulan kehidupan berlomba saling membunuh secara keji- tak kasatmata. 

"Jadi sempurna agar setara. Akan tetapi yang katanya dunia seringkali menjahati melalui perantara kata."

Katanya, mati, apabila ingin dirayakan. Katanya, bersuara, apabila ingin dianggap manusia.
All Rights Reserved
Sign up to add Kalopsia to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
[END] Hamil Dengan Jenderal Perang Gila Yang Menyebrang. by RheaXan01
16 parts Complete
Song Huanran tidak berharap kehidupan normalnya yang biasa dan nyaman berubah seketika dengan kedatangan seorang pria aneh di depan pintu rumahnya. Pria itu dengan konyolnya mengaku sebagai Jenderal Perang dari Negara An. Dengan pakaian megah, rambut merah panjang dan juga pedang replika di pinggangnya, Song Huanran mendecakkan lidah, kesal. "Kamu kira aku akan percaya? Katakan saja bahwa kamu gelandangan tampan yang berharap untuk di besarkan oleh orang lain, kan?" Menutup pintu dengan acuh, Song Huanran tidak menyangka pria itu akan mendobrak pintu rumahnya dengan kasar hingga terpental, nyaris mengenai kepala. "Dasar cosser gila! Enyahlah dari rumahku!!!" Pekiknya kesal, menahan emosi, oh tidak, dia memang sudah lepas kendali. Untuk membuktikan perkataannya, cosser pria itu dengan sigap mendorong Song Huanran ke kasur, lakukan serangan gerilya pada tubuh indah itu. Sebulan kemudian Song Huanran menemukan dirinya memiliki kebiasaan aneh yang sangat aneh. Muntah di pagi hari, kehilangan nafsu makan dan pusing juga mual, ketika ia mencari di Baidu, tanda-tanda yang ia sebutkan hanya menunjukkan reaksi hamil pada ibu hamil. "Persetan denganmu Jenderal Perang Gila!!!" Song Huanran yang mengamuk melemparkan semua perkakas pada Nie Yongsheng. Lima menit kemudian, "istri maafkan aku." Memohon dengan muka melas, dia berhasil menenangkan amarah Song Huanran. __ Peringatan! Konten bxb, harap kesadaran diri dan kebijakan pembaca. Ini bukan terjemahan, jadi maaf kalau kurang memuaskan, oke. Homophobic, tolong jangan buka cerita ini, oke. Bye bye, RheaXan¹ disini.
You may also like
Slide 1 of 9
Delapan Bayangan satu janji cover
Raina Maramitha cover
[END] Hamil Dengan Jenderal Perang Gila Yang Menyebrang. cover
Just For One Day cover
Mengulang cover
The Obsessive Maniac Is Trying To Confine Me cover
SHIZUN cover
ORV x M!Reader [On Hold] cover
𝐓𝐇𝐄 𝐒𝐄𝐕𝐄𝐍𝐅𝐎𝐋𝐃 𝐉𝐎𝐔𝐑𝐍𝐄𝐘 ⌞ ᗷᗷᗷ × ᗰᕼᗩ ⌝ cover

Delapan Bayangan satu janji

9 parts Ongoing

.Di sebuah sekolah sihir yang terkenal dengan keunikannya, Haechan dan Renjun masih berusaha keras menyembunyikan perasaan mereka masing-masing. Keduanya sering bertengkar, tapi ada sesuatu yang tak bisa disangkal di antara mereka. Setiap kali mata mereka saling bertemu, ada kilatan yang tidak bisa diabaikan, meski mereka berdua memilih untuk menutupi hal itu dengan sikap tengil Haechan dan kemarahan Renjun. Suatu hari, saat sedang latihan sihir, Haechan secara tidak sengaja membuat sebuah bola api meleset dan hampir mengenai Renjun. Renjun langsung meledak, memarahi Haechan dengan emosi yang tak terbendung. "Kamu gak pernah hati-hati, Haechan! Lihat, hampir saja aku terbakar!" Renjun berteriak, wajahnya memerah karena marah. Haechan, yang biasanya menganggap segala hal sebagai lelucon, kali ini terdiam. Melihat wajah Renjun yang begitu kesal membuatnya merasa aneh. Ada perasaan yang berbeda, perasaan yang tak bisa dijelaskan. Tanpa sadar, Haechan mendekat dan berkata dengan nada yang lebih lembut, "Aku minta maaf, Renjun. Aku gak sengaja." Renjun, yang semula ingin mengomel lebih lama, tiba-tiba terdiam. Dia melihat ekspresi Haechan yang lebih serius, yang jarang sekali muncul. Tanpa sadar, hati Renjun berdebar. Dia pun segera menjauh, berusaha mengontrol perasaannya.