Abhiraya

Abhiraya

  • WpView
    Reads 15,281
  • WpVote
    Votes 2,169
  • WpPart
    Parts 24
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 5, 2026
Abhiraya berasal dari bahasa sansekerta yang berarti memiliki harapan. Hiraya hidup sendirian di rumah mendiang kedua orang tuanya, melanjutkan hidup yang begitu jauh dari bayangannya dulu, berusaha selalu memiliki harapan dan memaknai hidup dibalik yang kata orang dirinya adalah kehampaan, dimana di usia ke 30 tahun menggeluti pekerjaan yang tidak sesuai pendidikannya dan belum memiliki pasangan. Bertemu dengan Abhisatya, pria penuh ambisi yang berusia 5 tahun lebih tua darinya, menyadari pria itu juga menghadapi apa yang dia hadapi. Ini adalah cerita ringan penuh pemaknaan dari Abhi dan Raya bahagaimana harapan, ambisi juga kenyataan berjalan.
All Rights Reserved
#1
slowburn
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • The Villain's Mother
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Chasing Sanara
  • Almost Married (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • De Andere Weg (END)
  • Nala dan Mas Juragan
  • The Last Yes!
  • DOMINEX | The Crime Lock

Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines