Selama dua tahun, Tania dikenal sebagai "bayangan" Gavin-siswi cerewet yang selalu muncul dengan senyum lebar, bekal buatan tangan, dan sejuta cara untuk menarik perhatian cowok paling dingin di sekolah itu. Semua orang menertawakan perjuangannya... termasuk Gavin sendiri. Sampai suatu hari-Tania berhenti. Tak ada lagi sapaan riang. Tak ada gangguan kecil yang dulu selalu ia keluhkan. Dan anehnya... justru itu yang membuat hidup Gavin berantakan. Kantin terasa sunyi. Hari-harinya hambar. Dan ketika Tania mulai terlihat tertawa dengan orang lain, sesuatu dalam diri Gavin retak-perasaan yang tak pernah ia akui kini berubah jadi cemburu yang membakar. Untuk pertama kalinya, Gavin mengejar. Namun luka yang ia buat tak semudah itu sembuh. Tania yang dulu berjuang sendirian kini memilih menjaga jarak. Penolakan demi penolakan membuat Gavin frustasi, sampai sebuah momen emosional mempertemukan mereka dalam luapan perasaan yang tak lagi bisa disembunyikan-membuka rahasia yang selama ini ia pendam: tanpa Tania, hidupnya benar-benar kosong. Akankah Tania kembali membuka hatinya? Atau justru Gavin harus merasakan pahitnya ditolak oleh orang yang dulu ia abaikan? Karena kadang... kita baru sadar arti seseorang, saat dia memilih pergi. ____________________________________________ Murni hasil imajinasi sendiri Lop yu all🤍
More details