Aksara Tanpa Suara

Aksara Tanpa Suara

  • WpView
    Membaca 175
  • WpVote
    Vote 6
  • WpPart
    Bab 5
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Min, Jun 15, 2025
Ia tidak pergi karena kalah, juga bukan karena cinta yang habis. Aksara pergi seperti hujan terakhir di bulan Juni- diam, basah, dan tak kembali. Tak ada pertengkaran, tak ada titik. Hanya koma yang dibiarkan menggantung di udara, dan sepi yang menjelaskan lebih baik dari lidah mana pun. Kepergian ini bukan tentang perpisahan, melainkan tentang bagaimana hati bisa hancur tanpa suara pun terdengar. Dan Anasera belajar: bahwa tidak semua kehilangan harus berisik, kadang yang paling menyakitkan adalah yang hanya ditinggal... tamat. Ini bukan cerita fiksi Semua bagian dalam cerita ini adalah nyata Penggalan cerita tentang dia Pesan serta do'a yang kutulis untuknya.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#589
sastra
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Shadow That Fades
  • Goresan Takdir
  • Luka dan Malam [END]
  • Sedna
  • GoodBye, " Mr G" ( End) Revisi
  • Sore, Senja, dan Hujan
  • Love Story Of Sharga & Ahra ✅(Tamat)
  • Hujan di Tanah Jogja [END]
  • Menggenggam Ranting Patah

Ada cinta yang tumbuh seperti doa, pelan namun penuh harap. Ada rindu yang menyelinap tanpa suara, hanya terasa di dada. Cinta ini bukan tentang memiliki. Tapi tentang dua hati yang saling tahu arah tapi tak pernah sampai tujuan. Tentang seorang perempuan yang jatuh cinta, bukan karena obsesi, tapi karena hati yang tak bisa membohongi dirinya sendiri. Aruna tahu ini tak akan mudah. Ia mencintai dalam diam, dan menyadari barangkali sejak awal, ia memang ditakdirkan bukan untuk dimiliki, melainkan untuk belajar melepaskan. Mereka bertemu bukan karena takdir yang manis, tapi karena semesta ingin mereka belajar: Tentang kehilangan, tentang pengorbanan, tentang bertahan, dan akhirnya... tentang merelakan. "Kalau kamu capek, berhenti ya... Tapi jangan berhenti jadi kamu yang selalu peduli." "Tenang, aku memang bukan tempat kamu pulang, tapi aku selalu jadi rumah kalau kamu butuh diam.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan