Penulis Luka [ON GOING]

Penulis Luka [ON GOING]

  • WpView
    Reads 3,043
  • WpVote
    Votes 2,319
  • WpPart
    Parts 31
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 17, 2025
Di lorong waktu yang sunyi, luka dan trauma menari dalam bayang-bayang kenangan busuk. Setiap langkah terasa berat, sebab kisah ini berjalan tanpa janji akhir yang pasti. Ia hanyalah jiwa yang terus mencari cahaya, meski tak tahu ke mana kisah nya akan bermuara. °°° "Luka dan trauma itu kadang terasa terlalu berat, seperti tak ada tempat untukku bernaung."Lirih seorang gadis malang yang tengah duduk di ayunan bersama laki-laki, yang tanpa sadar selalu ia sakiti "Aku di sini, menerima setiap luka dan gelapmu, tanpa pernah lelah. Cintaku tak menuntut, hanya ingin menjadi pelipur lara."Ujarnya dengan tatapan yang tak bisa di jabarkan oleh kata-kata Gadis itu tersenyum tulus, senyum yang manis, yang tidak pernah ia tunjukkan oleh siapapun. "Dulu aku buta, tak melihat besarnya cintamu. Tapi kini, aku sadar-bahagia itu ternyata ada di hadapanku...." ••• writer by : Perikeciilll
All Rights Reserved
#123
health
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Breathe
  • THE RED THREAD [End]
  • Behind the Silence
  • The Slice Of Life (TAMAT)
  • Cerita Senja [Terbit]
  • Hopeless
  • Di Balik Paragraf yang Tak Usai
  • Akhir dari semuanya adalah kematian
  • BERISIK (END)
  • STORY KEISHA (TAMAT)
Breathe

[Trigger warning! Efek yang kalian rasakan setelah membaca cerita ini di luar tanggung jawab dan kuasa penulis.] We all here have our own struggles. Hal tersebut adalah sesuatu yang pasti dalam hidup, yang tidak dapat ditentang lagi. Itu pula yang dirasakan oleh Rome. Ia sama seperti kalian. Ia pun memiliki masalahnya sendiri. Memiliki "luka"-nya sendiri. Tak terhitung berapa banyak goresan yang pernah ditorehkan dunia padanya hingga detik kau membaca kalimat ini. Sampai pada akhirnya, ia tidak dapat merasakan luka itu lagi. Kau tahu? Tingkatan sakit yang paling sakit adalah ketika kau sudah tidak dapat merasakan apa-apa lagi. Dan itulah yang dirasakan oleh Rome. Semuanya terasa kebas. Semuanya terasa begitu biasa. Semuanya terasa bagaikan bagian dari hidupnya yang mustahil untuk dihilangkan. Namun tetap saja, luka itu tidak akan pernah hilang dan akan selalu terasa sakit ketika dunia lagi-lagi menggoresnya. Bukan soal fisik, namun soal jiwanya. "Sometimes you gotta bleed to know that you're alive and have a soul." -Twenty One Pilots-

More details
WpActionLinkContent Guidelines