We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Di Antara Sepi Dan Keramaian

Di Antara Sepi Dan Keramaian

  • WpView
    Reads 25
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 1, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Kadang, ada hari-hari ketika aku hanya ingin menghilang, hanya untuk sejenak. Tidak ada kebisingan, tidak ada pertanyaan, hanya keheningan. Hanya aku dan pikiranku yang tenggelam dalam ruang kosong ini. Aku Kalia, seorang gadis yang tampaknya baik-baik saja di luar, tapi batinku berteriak untuk berhenti. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang melihat. Aku lelah dengan dunia yang terus berputar tanpa peduli bagaimana rasanya berada di dalamnya. Aku ingin berdiam diri, menenangkan hati yang sudah terlalu lama berperang dengan dirinya sendiri. Aku ingin sehari saja, hanya diam.
All Rights Reserved
#221
katahati
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  • RadenRatih
  • I'm broken [BHS#1]✓
  • Saat Semua Orang Berpaling
  • Hopeless
  • Isi Kepala

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines