Hujan tanpa henti

Hujan tanpa henti

  • WpView
    Reads 7
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, May 22, 2025
Cermin itu selalu jujur. Menunjukkan wajahku yang sama, namun mata yang berbeda. Dulu, mata itu berbinar, penuh dengan cerminan kasih sayang Mama dan Papa. Kini, hanya ada kesepian yang terpantul di dalamnya. Rumah ini masih sama, aroma kue Mama masih sama, namun kehangatannya telah sirna. Kasih sayang yang dulu melimpah kini berubah menjadi tatapan kosong, bahkan terkadang, sindiran tajam. Apa yang telah berubah? Apakah aku yang berubah? Atau... adakah rahasia yang disembunyikan keluarga kecilku ini? Rahasia yang membuat mereka melupakan gadis kecil yang dulu selalu mereka manjakan? Aku mencari jawabannya, dalam bayangan yang menghantui cermin setiap malam.
All Rights Reserved
#114
pembulian
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  •  HAZELA
  • 1001 Luka [On Going]
  • Mockingbird
  • ALFHALETT
  • Puing luka
  • Jejak wasiat kakakku
  • Caramu mencintaiku.
  • 𝐏𝐀𝐑𝐀𝐋𝐄𝐋 𝐇𝐄𝐀𝐑𝐓𝐒𝐓𝐑𝐈𝐍𝐆𝐒
  • Memorable
  • RUMAH KECIL ITU by : Plavana
HAZELA

Hazela oleh sweedzz_ Hazela Abraham lahir sebagai seorang kembar, tapi hidupnya tak pernah seimbang seperti seharusnya. Di antara dua wajah yang serupa, hanya satu yang selalu mendapat cahaya. Dan itu bukan dirinya. Sejak kecil, Hazela terbiasa menjadi bayang-bayang Bianca, saudara kembarnya yang sempurna, cerah, dan selalu dicintai semua orang. Termasuk oleh Samudra, lelaki yang Hazela panggil kekasih, namun tak pernah benar-benar membuatnya merasa menjadi satu-satunya. Setiap hari adalah perjuangan. Perjuangan untuk didengar, diperhatikan, bahkan sekadar diakui. Samudra selalu ada... tapi tak pernah untuk Hazela. Hatinya, langkahnya, dan keputusannya, semuanya selalu condong pada Bianca. "Kamu bisa ke kantin sendirian, kan?" Kalimat yang seharusnya biasa, tapi terdengar seperti tamparan ketika disampaikan oleh orang yang kau sebut rumah. Hazela tidak butuh dunia. Ia hanya ingin satu hal: dianggap penting, walau hanya sekali. Ia bukan meminta dunia. Ia hanya memohon tempat kecil di hati seseorang yang katanya mencintainya. "Jadiin aku prioritas kamu, Sa... sekali saja, sebelum aku tidur untuk selamanya." "Kamu prioritas aku, Zel... tapi sekarang, menjaga Bianca lebih penting daripada kamu." Ketika cinta menjadi luka, dan kehadiran menjadi beban, apa yang tersisa dari sebuah hubungan? Akankah kamu tetap bertahan mencintai seseorang yang tak pernah memilihmu? Hazel hanya punya satu permintaan sederhana sebelum segalanya terlambat: "Berikan aku kebahagiaan, sebelum aku pergi. Itu saja."

More details
WpActionLinkContent Guidelines