Pusat Kecewa

Pusat Kecewa

  • WpView
    Reads 610
  • WpVote
    Votes 48
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 18, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Harleya Vanesha tidak pernah membayangkan akan meninggalkan Jakarta secepat itu. Tetapi setelah patah hati yang begitu dalam, kota itu tidak lagi terasa ramah. Setiap sudutnya seperti mengingatkan pada seseorang yang ingin ia hapus dari memori. Singapura dipilih bukan karena ia siap, tetapi karena ia ingin menjauh. Menenangkan hati, menata ulang hidup, dan memulai dari awal. Di sana, ia tidak benar-benar sendiri. Arjuna, sahabatnya selalu setia menemani. Leya pikir, dua tahun adalah waktu yang cukup untuknya bisa melupakan. Sampai suatu hari, masa lalu datang tanpa aba-aba. Seseorang yang pernah mematahkan hatinya kini berdiri lagi di hadapannya. Masih sama. Masih memikat. Masih menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh. Lalu bagaimana Leya menghadapi sosok si pusat kecewa?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Everything Happens for a Reason
  • BEAUTIFUL DISASTER
  • Echoes Of Goodbye (END)
  • The Ex War (✓)
  • NATASHA
  • Sick Love
  • The Last Scratch [END]
  • INTERPRETASI RASA

Segalanya terjadi begitu cepat. Otakku belum bisa bekerja maksimal untuk mengerti apa yang sedang terjadi. Kalau saja aku tahu hal ini akan terjadi, aku akan menggunakan waktuku sebaik - baiknya. Aku akan mengukir kenangan terbaik bersamanya. Aku akan berada di sisinya di saat - saat terakhirnya. Mengapa ini terjadi begitu cepat? Aku masih sulit mencerna apa yang terjadi. Aku bertemu dengannya seperti baru kemarin saja. Bersama dengannya membuat waktu seolah - olah berhenti. Membuatku tidak bisa memikirkan apa - apa selain kebersamaanku dengannya. Itu sungguh menyenangkan. Rasanya aku ingin membunuh waktu agar waktu tidak berjalan dan aku dapat terus bersamanya. Sekarang, kebersamaan itu hilang begitu saja. Lenyap ditelan bumi. Andai aku mempunyai mesin waktu, aku tidak akan membiarkan hal ini menimpa dirinya. Aku tidak mau kehilangan dirinya. Waktu. Sekarang aku jadi membenci waktu. Mengapa waktu tidak bisa memberi pertanda bahwa sesuatu akan terjadi? Mengapa waktu terus berjalan begitu saja tanpa memikirkan perasaan orang lain? Perasaanku. Semua hal yang kupercaya berbalik menentangku. Aku tidak tahu apa yang harus kupercayai.

More details
WpActionLinkContent Guidelines