Di balik tembok pesantren yang sunyi, dua jiwa disiapkan untuk saling menemukan-bukan lewat rayuan atau pertemuan, tapi lewat doa yang tak pernah terdengar, dan keputusan yang lahir dari restu para kiai.
Nadira, santri putri yang dikenal karena adab dan kelembutannya, hidup dalam ketundukan pada ilmu dan kehendak-Nya. Ia tak pernah berani berharap pada siapa pun, karena hatinya dijaga hanya untuk yang halal. Namun, tanpa sepengetahuannya, namanya telah disebut dalam musyawarah dua kiai-dijodohkan dengan seseorang yang bahkan belum pernah ia pandang lama-lama.
Sementara itu, Fathan, putra dari pengasuh pesantren sekaligus seorang Gus yang tak menyukai sorotan, tumbuh sebagai pemuda pendiam dan dalam pemikirannya. Ia mencintai ilmu dan diam-diam menulis doa-doa tentang pasangan hidup yang bisa membimbingnya pada surga. Ia pun tidak tahu, bahwa sosok yang selama ini ia jaga dalam doa... telah dititipkan padanya lewat sebuah amanah besar: perjodohan.
Tanpa perkenalan, tanpa proses saling jatuh cinta, mereka dituntun oleh restu dan kepercayaan. Tapi apakah cinta bisa tumbuh setelah akad? Apakah diam mereka cukup untuk menumbuhkan rasa? Atau justru perjodohan ini akan menguji arti ikhlas, sabar, dan taat yang sebenarnya?
All Rights Reserved