The sandwich

The sandwich

  • WpView
    Reads 164
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Aug 10, 2025
Di usia yang seharusnya jadi masa paling produktif, Kalesa justru terjebak di tengah pusaran tanggung jawab. Ia harus menjadi anak yang bisa diandalkan bagi orang tuanya yang mulai menua dan sakit-sakitan, serta menjadi panutan untuk adik-adiknya, sekaligus tetap profesional di dunia kerja yang menuntut lebih dari sekadar "berusaha". Belum lagi tekanan sosial yang terus mendesak: menikah, mapan, bahagia. Novel ini mengangkat kisah nyata yang dihadapi banyak anak muda zaman sekarang-mereka yang disebut sandwich generation. Terjepit di antara dua generasi, dengan tuntutan dari atas dan bawah, sambil memendam kelelahan yang tak pernah sempat diistirahatkan. Lewat perjalanan Kalesa, kita diajak melihat bahwa menjadi kuat bukan berarti harus terus bertahan tanpa jeda. Dan bahwa merawat diri sendiri bukanlah bentuk egois-melainkan kebutuhan dasar yang sering kita lupakan saat terlalu sibuk menjaga semua orang.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Prenuptial Agreement
  • Time Loop
  • Tepi Lintang (HIATUS)
  • Askara Leonard (Re-Upload) [END]
  • I Will Change My Fate | By: soraya || Rora & Jungwon
  • Juan [REVISI]
  • TETANGGAKU SELALU MENITIPKAN ANAKNYA

"Tya, kapan kamu akan menikah?" tanya sang ayah. "Nanti, Yah, kalau sudah ada jodohnya," jawaban ringan itu yang selalu menjadi andalan Adistya. "Iya kapan?" tanya kembali ayahnya yang sepertinya tak sabar menginginkan sang putri untuk segera menikah. "Sabar kali, Yah, toh jodoh gak akan ke mana." "Jodoh memang tidak akan ke mana, tapi kalau gak ke mana-mana kapan dapat jodohnya." Kutipan itulah yang selalu ayahnya ucapkan. Membuat Adistya memutar bola matanya bosan. Ayahnya itu gemar menanyakan perihal jodohnya apalagi mengingat usianya yang sudah menginjak angka 27, usia yang sudah cukup matang untuk membina rumah tangga sampai ayahnya gemar sekali mencarikan jodoh yang untungnya tidak pernah berhasil. Adistya lelah begitupun dengan sang ayah, sampai akhirnya sebuah kesepakatan mereka buat untuk perjodohan terakhir Adistya. Kebebasan sudah ada di depan mata, tapi harapan itu harus gagal karena dengan lancangnya kepala Adistya mengangguk mengkhianati hatinya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines