SEASON 2 -LORONG YANG TAK PERNAH TERDATA

SEASON 2 -LORONG YANG TAK PERNAH TERDATA

  • WpView
    GELESEN 17
  • WpVote
    Stimmen 5
  • WpPart
    Teile 7
WpMetadataReadLaufend
WpMetadataNoticeZuletzt aktualisiert Do., Mai 22, 2025
Season 2. --- Alea pikir semuanya sudah berakhir. Lorong 3 telah terkunci. Pantulan dirinya hancur. Dunia nyata kembali normal. Tapi ternyata... kegelapan hanya sedang menunggu. Saat seorang murid pindahan misterius bernama Elan datang ke SMA Arkadya, cermin-cermin tua mulai retak sendiri. Bisikan yang pernah menghilang kembali terdengar di malam hari. Dan lebih buruk lagi-pantulan Alea belum benar-benar mati. Dengan masa lalu Elan yang kabur, perjanjian berdarah yang mengikat, dan pantulan yang kini mengincar lebih dari sekadar satu jiwa, Alea harus memilih: Melawan kegelapan yang ia kenal... atau menghadapi kebenaran yang lebih menakutkan dari mimpi terburuknya. > "Karena yang terpantul... tidak pernah benar-benar pergi."
Alle Rechte vorbehalten
Werde Teil der größten Geschichtenerzähler-CommunityErhalte personalisierte Geschichtenempfehlungen, speichere deine Favoriten in deiner Bibliothek und kommentiere und stimme ab, um deine Community zu vergrößern.
Illustration

Vielleicht gefällt dir auch

  • "Bisikan Senior di Lorong Sunyi"
  • Bitter Memories√
  • {𝐄𝐍𝐃}Catatan Teman yang Sudah Mati
  • SHADOW OF TRINITAS. (SELESAI)
  • Ex or New? [REVISI]
  • Cermin di Ujung Jalan
  •  my first love
  • Langit Yang Merenggut Cinta
  • RE:MEMBER (END)

Namaku Amira, tapi aku lebih suka dipanggil Mira. Aku baru saja menginjakkan kaki sebagai mahasiswa baru di sebuah fakultas yang terkenal-atau lebih tepatnya, ditakuti-karena senioritasnya yang begitu kuat dan tak kenal ampun. Aku pikir setelah melewati masa PKKMB yang melelahkan itu, hidupku akan mulai berjalan normal, seperti yang kudengar dari cerita teman-teman. Tapi aku salah. Sangat salah. Keesokan harinya, saat pelajaran baru saja selesai, kami dipanggil oleh para senior. Pertemuan pertama berlangsung di dekat kolam perpustakaan yang rindang, tempat yang seharusnya menenangkan, tapi malah membuat dada ini berdebar tak karuan. Suasana terasa tenang, tapi mataku menangkap ada sesuatu yang tak biasa-sebuah bayang gelap yang mengintip di balik senyum mereka. Hari-hari berlalu, dan tempat pertemuan kami bergeser ke lorong yang sunyi dan gelap. Lorong itu seperti ruang antara dunia nyata dan mimpi buruk. Bau lembap yang tajam menusuk hidung, nyamuk beterbangan seperti bayangan yang tak pernah lelah mengawasi, dan lampu remang yang membuat setiap bayangan jadi dua kali lebih menyeramkan. Setiap kali kami dikumpulkan di situ, aku merasa seolah-olah ada mata yang mengintai dari kegelapan, membidik dan menilai. Bisikan-bisikan samar para senior, tatapan dingin yang menusuk tulang, membuatku bertanya dalam hati: apakah ini benar-benar untuk melatih mental, atau sesuatu yang jauh lebih gelap? Aku, yang tubuhnya lemah dan sering sakit, merasa terjebak di tengah tekanan yang menyesakkan. Di antara teman-temanku-Ani yang pendiam tapi kuat, Aini yang selalu cemas, Olifia yang berusaha tegar, dan Ratih yang tak pernah berhenti berharap-kami saling menggenggam tangan dan hati, mencoba menguatkan satu sama lain. "Tapi aku tahu, bisakah kami bertahan?" Bisakah kami tetap berdiri tegak saat bayang-bayang senior terus membayangi dan bisikan itu berubah menjadi ancaman? Atau akan kah kisah kami berakhir di lorong sunyi itu, di mana keberanian diuji dan ketakutan menjadi penguasa?

Mehr Details
WpActionLinkInhaltsrichtlinien