The Chasm Weaver

The Chasm Weaver

  • WpView
    Reads 13
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 26, 2025
Di Akademi Arcane Prime, tempat sihir terpilah dalam tiga asrama, Elaraion Veridian, seorang jenius kutu buku yang tak terduga, justru ditempatkan di asrama terkuat, Ignis. Namun, takdirnya jauh lebih besar. Dengan kemampuan uniknya merasakan "Lagu Kuno" dan "retakan dimensi," Elaraion menemukan dirinya menjadi Chasm Weaver, penjalin jurang antara dunia mereka dan alam lain yang berbahaya. Bersama sahabat Ignis-nya, Kaelen, dan Rhys dari Terra yang misterius, mereka mengungkap keberadaan Ordo Serpentis, sekte kuno yang terobsesi dengan kekuatan terlarang. Dengan bulan purnama yang mendekat dan ritual berbahaya di ambang pelaksanaan, Elaraion dan aliansi rahasianya harus berpacu dengan waktu. Bisakah mereka menghentikan Ordo Serpentis dan ambisi Seraphina dari Aether yang berbahaya, sebelum rahasia tergelap akademi menghancurkan segalanya?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Terraciel World: Nyanyian Darah Tertua
  • Aetherion
  • Weapon Of Revenge (END)
  • The Magic Lamp
  • The Moon and Her Love Story [END]
  • The Scrivener's Curse
  • Velmora Arcane Academy
  • Syahdan ✓

Varie melangkah ragu menuju aula utama. Matanya menyapu deretan kursi bertingkat yang tak terhitung jumlahnya. Mungkin ada ribuan, atau lebih. Belum pernah ia melihat aula sebesar ini. Jantungnya berdebar, antara gugup dan kagum. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Pandangannya menyapu ruangan dan terhenti pada sepasang mata biru yang begitu familiar. Pemuda itu, Kael. Sosok yang kini lebih dewasa, namun tetap dengan tatapan tajam yang tak pernah berubah. Varie menahan napas, matanya sejenak membeku. Tidak mungkin, Ini bukan kebetulan, kan? Tentu saja itu Kael, meskipun dia tampak jauh berbeda dari yang ia ingat. Kael melangkah pelan ke arahnya. Langkah-langkahnya tenang, terukur. Bukan terburu-buru, tapi juga tidak ragu. Seolah jarak di antara mereka memang tinggal menunggu waktu untuk dijembatani. Kael berhenti tepat di hadapan Varie. Beberapa detik hanya diisi keheningan. Sorot matanya tetap tajam, tapi dalamnya menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan, rindu yang ditahan terlalu lama. "Varie." Suaranya pelan. Varie mengerjap pelan. "Kael" ujarnya, lebih kepada dirinya sendiri. Tubuhnya seolah butuh waktu untuk menerima kenyataan itu. Tatapan mereka bertemu. ----- Di antara konspirasi kekuasaan, sihir pemusnah, dan kebenaran yang terlupakan, mereka dihadapkan pada pilihan: Mengikuti jalan yang ditentukan atau Membentuk takdir baru bersama. Darah dan mesin. Jiwa dan sistem. Saat keduanya bersinggungan, dunia tak akan lagi sama.

More details
WpActionLinkContent Guidelines