Second Round

Second Round

  • WpView
    Reads 19
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, May 27, 2025
"Gimana caranya supaya seseorang suka sama kita?" Mady menatap layar ponselnya, jempolnya diam di atas keyboard. Kalimat itu sudah ia ketik berulang kali-dan setiap kali hendak dikirim, ia menghapusnya lagi. "Apa harus selalu ada buat dia?" "Apa harus jadi orang yang dia butuhin?" "Atau cukup jadi seseorang yang nggak bisa dia lepasin?" Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah ia temukan. Sebab setiap kali ia merasa semakin dekat, Narissa selalu ada di sana-mengambil posisi, menyita perhatian, dan membuat segala sesuatu berputar mengelilinginya. Narissa bukan seseorang yang dikenal karena kecerdasannya. Bukan karena kepribadian yang hangat atau pertemanan yang luas. Ia dikenal karena sesuatu yang lebih sederhana: masalah. Dan entah bagaimana, hal itu selalu berhasil menarik perhatian Luno. "Lo nggak lelah?" Suara seseorang membuyarkan pikiran Mady. Ia tersenyum kecil, menggenggam buku di tangannya lebih erat. Lelah? Ya, mungkin. Tapi menyerah? Itu belum masuk dalam pilihannya. ~DISCLAIMER~ Cerita ini merupakan 100% fiksi dan tidak berdasarkan kejadian nyata, individu, atau tempat mana pun. Jika ada kesamaan dalam nama, karakter, alur, atau elemen lainnya, itu murni kebetulan dan tidak disengaja. Hak cipta atas cerita ini sepenuhnya milik penulis. Mohon hargai karya dan usaha yang telah dicurahkan dalam pembuatan cerita ini. Untuk para pecinta plagiat-silakan menjauh. Kreativitas itu ialah sesuatu yang unik bagi setiap individu, dan menghargai karya orang lain adalah bentuk apresiasi paling dasar. Terimakasih telah membaca dan mendukung cerita ini! Semoga bisa memberikan pengalaman membaca yang menyenangkan. --- Start: 25 Mei 2025
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • TIMELESS CRUSH (REVISI)
  • Love Letters [END]
  • Sergio | Haechan
  • New Universe : Transmigration

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines