Museum Memoar

Museum Memoar

  • WpView
    Reads 1,565
  • WpVote
    Votes 161
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published about 9 hours ago
Canina Tjahrir, mahasiswi Ilmu Kimia, mendaftar program pertukaran pelajar ke Barcelona karena... ingin belajar sastra, apalagi puisi. Sahabatnya tidak tahu jika ia masih menulis puisi. Menurut mereka, puisi itu bukan karya yang keren. Marco Dipoero Prasetya, berakhir mendaftar program pertukaran pelajar karena terdesak. Daripada masuk firma hukum lewat jalur titipan ayah, hina sekali. Sebagai mahasiswa Ilmu Hukum, Marco punya prinsip! Dan siapa sangka jalur yang Marco pilih mengantarkannya kembali pada Canina, perempuan yang pernah mengirimkannya surat cinta di SMA. Bersama empat orang lain, mereka mencoba membuat peraturan bertahan hidup: menavigasi keterbatasan bahasa, jam makan yang mundur tiba-tiba, budaya kencan yang gila, keraguan ini halal atau tidak, dan begadang setiap malam demi ratusan lembar kertas yang harus dibaca. Di antara semua kekacauan yang terjadi, di tanah Gaudi, mereka mendapatkan keberanian baru: untuk menyatakan cinta! © 2025, 25th May, Museum Memoar by Tiara Ridhati. All Rights Reserved.
All Rights Reserved
#110
indonesia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Prahara Lamaran [END]
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Nakula
  • Kembang Desa (Hiatus)
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Salah Status
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Hello Mr. Komrad (Complete)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines