Tahun 1990-an. Di balik rimbunnya hutan tropis Thailand, suara alam bertarung melawan jeritan kebijakan negara. Pemerintah, dengan dalih konservasi, menetapkan kawasan adat sebagai taman nasional secara sepihak-menghapus eksistensi ratusan tahun masyarakat adat yang hidup selaras dengan alam. Di tengah konflik antara eco-fasisme dan eco-sosialisme, dua sosok bertemu: Smart, seorang analis hukum dan kebijakan dari LSM progresif di Bangkok, dan Boom, pemuda lokal dari suku pegunungan yang tertindas. Perjumpaan mereka bukan hanya menyatukan dua dunia-metropolis dan rimba-tetapi juga menyalakan api perlawanan dan kasih. "Rimba Jiwa" bukan hanya kisah cinta dua pria di tengah badai politik dan identitas, tapi juga upaya menyingkap stigma, menantang kebijakan dari balik menara gading, dan membumikan suara-suara yang selama ini dibungkam oleh jargon "konservasi."
Mais detalhes