Dari Mamah Untuk Mamah

Dari Mamah Untuk Mamah

  • WpView
    Reads 38
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Oct 8, 2025
Di dunia yang begitu ramai, penuh suara dan ambisi, ada satu suara yang tak pernah memaksa untuk didengar, tapi selalu berhasil menyentuh hati-suara seorang ibu. Aku tumbuh bukan dari kemewahan, bukan pula dari segala yang sempurna. Tapi aku tumbuh dalam pelukan hangat seorang perempuan yang mencintai dengan cara paling sunyi, paling tulus. Ia tidak menanamkan mimpi-mimpi besar dalam kepalaku, tapi ia meletakkan keberanian dalam hatiku. Perjalanan ini tak pernah mudah. Ada hari-hari di mana aku merasa kalah sebelum bertanding, hari di mana langkah terasa berat bahkan untuk sekadar keluar dari kamar. Tapi di tengah semua itu, ada satu hal yang membuatku tetap bertahan: bayangan Mamah yang berdiri paling depan, bukan sebagai pahlawan yang sempurna, tapi sebagai rumah yang tak pernah menutup pintunya. Aku menulis ini bukan karena segalanya sudah selesai, tapi justru karena masih banyak hal yang belum sempat kusampaikan. Tentang terima kasih yang sering tertahan di kerongkongan, tentang rindu yang tak bisa dibungkus dengan hadiah, tentang luka yang sembuh karena satu pelukan hangat darinya. Dan tentang Nazwa-seseorang yang membuatku menyadari bahwa tidak semua anak memiliki pelukan yang sama, rumah yang sama, Mamah yang sama. Maka, jika cinta adalah warisan, aku ingin mewariskan semua yang pernah Mamah ajarkan kepadaku. Dalam bentuk kata, dalam bentuk kenangan, dalam bentuk keberanian untuk mencintai... bahkan ketika dunia tidak mengajarkan cara untuk itu. Ini bukan sekadar cerita. Ini adalah bentuk terima kasih, yang selama ini hanya kutulis diam-diam dalam hati. Dari aku, Untuk Mamah.
All Rights Reserved
#224
mamah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Eliinaa
  • Embun Pagi
  • JATUH CINTA SETELAH MENIKAH
  • The Love Story" Kurus & Mancung"
  • Sekali Lagi (End)
  • SELEPAS KAU PERGI (END)
  • JANJI TANPA SUARA
  • Kawin Kontrak? [COMPLETED]
  • Mahligai Sunyi
Eliinaa

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata 'Rumah' ? Tempat nyaman dipenuhi kehangatan? Tempat berlindung dari terpaan badai kehidupan? Pasti itu kan yang terlintas di benak kalian? Sayangnya, 'Rumah' yang ada di kehidupanku jauh berbeda dari semua itu. Kehangatan berubah menjadi kepedihan. Tempat yang seharusnya jadi tempat berlindung justru jadi tempat yang paling membuatku tertekan. Aku tidak iri, sungguh. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya ketika dipeluk oleh ayah dan ibu dengan penuh kasih sayang. Sarapan bersama ayah, ibu, kakak dan aku di pagi hari sambil tertawa ria karena masakan ibu yang gosong mungkin? atau jatuh dari motor saat sedang belajar mengendarainya lalu ayah akan datang dan membantuku berdiri, menenangkanku sambil berkata "Gapapa, ini biasa terjadi kok kalo lagi belajar, pernah dengar pepatah 'kamu nggak bakal bisa berdiri kalau nggak pernah jatuh' kan? Nah, kasus kamu sekarang sama kayak pepatah yang ayah bilang tadi." ? atau saat adzan tiba, ayah akan mengajak ibu, kakak dan aku untuk sholat berjamaah dengan ayah sebagai imamnya ? atau mungkin menjahili kakak yang sedang sibuk belajar lalu aku akan dihadiahi kejar-kejar an dan berakhir dengan aku yang terjatuh lalu menangis, kemudian ibu akan datang mengobati lukaku akibat aksi kejar kejar an tadi sambil mengoceh? Benar-benar keluarga impian bukan? Ya, benar, karena itu 'keluarga impian' maka itu hanya akan jadi 'mimpi' saja. Itu tidak terjadi di kehidupan nyata. Ya, mungkin ada, tapi bukan kehidupanku. Sekarang, rumah sudah tidak lagi menjadi tempat ternyaman dan penuh kehangatan seperti yang kurasakan dulu. Kini rumah hanya menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Aku telah kehilangan, dan rasa kehilangan ini telah membuatku takut untuk memiliki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines