Ainayya Yumna Fahira adalah Mahasiswi hukum yang ambisius, tumbuh dalam keluarga modern yang mengutamakan logika dan prestasi. Hidupnya sudah terencana: karier, cita-cita, bahkan cinta. Namun semua berubah ketika orang tuanya secara tiba-tiba menjodohkannya dengan Rayyan Naufal, seorang santri kharismatik lulusan Timur Tengah yang baru saja kembali dan dipercaya mengajar di pesantren keluarga.
Bagi Naya, perjodohan itu adalah langkah mundur. Ia tidak kenal Rayyan, tidak mengerti dunia pesantren, dan merasa masa depannya dipasrahkan pada takdir. Sementara bagi Rayyan, menerima perjodohan adalah bentuk birrul walidain, taat kepada orang tua dan kehendak Allah.
Pembicaraan mereka dipenuhi canggung dan perbedaan. Naya bicara dengan logika, sedangkan Rayyan menjawab dengan hikmah. Namun seiring waktu, Naya mulai melihat sisi lain dari Rayyan: keteguhan, kesabaran, dan cinta yang diam-diam tumbuh bukan karena ingin, tapi karena ridha.
Saat hari akad sudah tiba, Naya terjebak di antara dua pilihan: menerima kabul yang diucapkan atas nama takdir, atau meninggalkannya demi mengejar masa depan yang ia rancang sendiri.
Di antara Kabul dan Takdir, adakah ruang untuk cinta yang tumbuh dari keikhlasan?
Nayla tak pernah benar-benar mengerti arti rumah. Sejak kecil, ia hidup dengan perasaan asing di tengah keluarganya sendiri. Namun, ia memilih mengabaikan perasaan itu-sampai takdir mulai membawanya pada jejak masa lalu yang terkubur.
Pertemuan dengan Rafif bukan sekadar pertemuan biasa. Ada sesuatu di matanya yang seakan menyimpan kisah yang tak ia mengerti. Perlahan, rahasia demi rahasia terungkap. Tentang nama yang bukan miliknya, tentang keluarga yang tak seutuh yang ia kira, dan tentang sebuah doa yang pernah dipanjatkan bertahun-tahun lalu.
Ketika takdir mulai menunjukkan kepingan kebenaran, Nayla harus memilih: menerima segalanya sebagai ketentuan Allah atau terus bertanya mengapa ia ditinggalkan. Namun, apa yang terjadi jika jawabannya justru lebih menyakitkan dari yang ia bayangkan?