Satu Minggu Kerja Paruh Waktu

Satu Minggu Kerja Paruh Waktu

  • WpView
    Reads 1,337
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadMatureComplete Mon, Jun 22, 2026
Dimas Anggara, punya satu mimpi: menonton konser artis barat favoritnya. Ia berhasil membeli tiket, tapi kehabisan uang. Demi memnuhi mimpinya. Ia bekerja paruh waktu selama satu minggu. Mulai dari bartender, model hidup, hingga terapis, tiap pekerjaan membawanya ke pengalaman seksual yang tak ia duga-kadang canggung, kadang menggoda, kadang membuatnya kehilangan kendali, kadang justru sebaliknya. Dari pengalaman-pengalaman itu, Dimas mulai menyadari banyak hal tentang tubuh, batasan, dan hasratnya sendiri. Apa yang awalnya sekadar demi uang, perlahan menjadi perjalanan mengenal diri. Hingga di hari terakhir, pria misterius yang ternyata hadir di balik semua pengalaman itu. Konser pun menjadi penutup, bukan sekadar hiburan, tapi titik balik Dimas memahami siapa dirinya dan apa yang ia cari.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • To the Happy Ending✓
  • SUMANGKE: THE SCAVENGER
  • The Kai Story
  • Dream Researcher "DIYUS"
  • Lunch Time
  • Falling into the World of Modeling
  • Married to the Enemy [DIRA] - end
  • G I D A R A (END)
  • Simfoni Dusta

Ketika kematian menjemputmu setiap saat, keinginan terbesar dalam hidup Zata adalah setidaknya sekali saja, sekali saja dia ingin mati dengan tenang! Kenapa ia selalu berakhir tragis dan menyedihkan seperti ini?! Dari mati sebagai gelandangan tunawisma di gang sempit, kelaparan sampai malaria, prajurit yang gugur di medan perang, dituduh penyihir sampai hukuman gantung, hampir semua jenis kematian sudah dirasakan oleh Zata. Dia sendiri bahkan terheran-heran bagaimana ia bisa terus menerus mengulang kehidupan dan kematian bagai lingkaran looping yang terus berputar, menjebaknya. Ketika akhirnya ia merasa bosan oleh kehidupan yang terus berulang ini, Zata menumbuhkan satu kebiasaan buruk yang bahkan ia sendiri tidak sadari yaitu, "Ah sudahlah, pada akhirnya aku akan mati lagi!" Begitulah yang sekiranya ia pikirkan sehingga sekarang baginya nyawa bukanlah sesuatu yang berharga lagi. Dia kerap mati konyol dalam insiden-insiden yang sebenarnya bisa ia cegah, hindari, atau malah atasi. Namun pada satu malam, di kehidupan yang entah ke berapa sekarang, di mana di kehidupan ini ia merupakan seorang pedagang kain, bersama para pedagang lainnya Zata berbaur dengan kalangan bangsawan yang tertarik dengan barang mereka. Di satu malam yang cukup mencekam, di pesta yang seharusnya meriah penuh suka tawa, sebuah pemberontakan, kudeta terjadi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines