Love, Juxtaposition.

Love, Juxtaposition.

  • WpView
    LECTURAS 232
  • WpVote
    Votos 11
  • WpPart
    Partes 30
WpMetadataReadConcluida vie, nov 7, 2025
Untuk Nadra Atlea yang pernah ditinggalkan. Untuk Dipa Reykama yang pernah dihancurkan. Untuk kamu, yang percaya bahwa hubungan adalah sesuatu yang layak diperjuangkan. *** Apa jadinya kalau Nadra jatuh hati pada seseorang yang ternyata memandang cinta dari arah sebaliknya? Setelah ditinggalkan orang-orang yang ia sayang, Nadra percaya kalau hubungan itu butuh nama. Salahnya, ia terlanjur jatuh pada Dipa. Cowok yang ternyata lebih nyaman membiarkan semuanya mengalir, tanpa label, tanpa ikatan. Hubungan tanpa nama yang membuat Nadra dan Dipa kadang berdampingan, kadang saling menjauh, tapi tak pernah benar-benar melepaskan. Pertanyaannya, sampai kapan mereka bisa bertahan? Juxtaposition-where love doesn't always mean going the same way. Update : Setiap Selasa dan Jumat #1 Angstromance (10 Juli 2025) #1 Kampusromance (11 September 2025) #1 Emotionalrollercoaster (13 September 2025)
Todos los derechos reservados
#61
campuslife
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • The Villain Mother
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Hello, KKN!
  • My Celestia [ON GOING]
  • Pawang Hantu Om Aktor
  • Nala dan Mas Juragan
  • The Last Yes!
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Kedhaton Soeraandaru Hadiningrat
  • Be My Wife

HAPPY READING ❤️‍🔥 Nama Thania digunakan untuk interaksi luar/fisik, sedangkan nama Zeva digunakan untuk kesadaran/jiwa aslinya di dalam hati. Ini sengaja saya bedakan agar konflik batinnya lebih terasa. Selamat membaca!" --- "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido