"We're just friends, right?"

"We're just friends, right?"

  • WpView
    Reads 35
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jun 11, 2025
"Mungkin rasanya akan berbeda jika itu orang lain kan? Atau mungkin sebenarnya aku yang terlalu lama mengabaikan sesuatu yang tidak seharusnya ku abaikan". Minum kopi dipagi hari setelah terbangun dari panjangnya malam memang lah sesuatu yang perlu disyukuri, tapi bagaimana jika meminum kopi dipagi hari karena terjaga sepanjang malam? dengan segala perasaan yang tak bisa ia abaikan kembali seperti sebelumnya atau bahkan ia tak bisa lari dan bersembunyi layaknya seorang anak kecil yang sedang bermain petak umpet dengan teman imajinasi nya sendiri. Begitulah dengan perasaan yang dirasakan oleh seorang pemuda yang baru saja menginjak usia nya yang ke-20 tahun. Seorang mahasiswa Sastra Semester 5 yang mengalami kecelakaan yang tak pernah ia sangka akan mengubah sepenuhnya kehidupan nya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Miracle of Survival [END]
  • Bukan Stalker [TAMAT]
  • Cerita Kopi
  • ALEYA~~
  • Ruang Biru [ON GOING]
  • Together with The Sundown
  • •Pantai Terlarang Rahasia Umum•
  • SECANGKIR KOPI SEBELUM PULANG || END

"Bahagia? Bahkan aku terlalu takut buat mikirin hari esok." Ucapannya lirih, tapi cukup menusuk di antara dinginnya malam. Matanya kosong, seolah raganya hadir di sana, tapi pikirannya tersesat entah ke mana. Sejak kecil, hidup tak pernah memberinya ruang untuk bernapas lega. Bahagia hanya terdengar indah di kepala orang lain, tapi tak pernah nyata dalam hidupnya. Terlalu banyak kehilangan, terlalu banyak luka, sampai ia kebal-bahkan pada harapan. Suara-suara yang tak bisa ia hentikan, bayangan-bayangan yang tak bisa ia usir; skizofrenia mengurungnya dalam dunia yang tak dipahami siapa pun, bahkan dirinya sendiri. Hari esok? Baginya, lebih menakutkan dari hari ini. Karena esok hanya menuntut satu hal: "Masih kuat, nggak?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines