Meja Nomor 7

Meja Nomor 7

  • WpView
    Reads 36
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, May 27, 2025
Dalam dunia yang penuh harapan setengah jadi dan pertemuan yang tak selalu berujung pada "kita", Mentari belajar satu hal: bahwa tidak semua cinta harus memiliki untuk bisa mengubah hidup. Melalui percakapan singkat, tatapan yang tertahan, dan perjalanan kembali dalam dirinya sendiri, ia menemukan bahwa melepaskan bukan berarti kalah--tapi sebuah kemenangan yang diam-diam, namun mendalam. Ini bukan kisah cita biasa. Ini adalah catatan perempuan yang pernah berharap, terluka, lalu bangkit... sebagai dirinya yang utuh. Untuk kamu yang pernah menunggu, tapi akhirnya memilih pulang ke diri sendiri.
All Rights Reserved
#320
journey
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jauh. Esok Nanti atau Selamanya
  • Saat Dunia Tak Menatap Kearahmu
  • BAYANGAN HARAPAN [END]
  • 31 Months for You (Revisi)
  • Senja Diantara Dua Langit
  • Masih Ada Kamu di Setiap Luka [TAMAT]
  • Dibawah Langit Yang Retak (joongpond)
  • Antarātmā (On Going)
  • Erlangga
  • 𝐒𝐞𝐫𝐩𝐢𝐡𝐚𝐧 𝐀𝐬𝐭𝐚𝐦𝐚𝐥𝐚│〚𝐓𝐀𝐌𝐀𝐓〛

Bagaimana jika perasaan itu tumbuh tanpa izin, hadir tanpa undangan, dan tinggal terlalu lama dalam hati yang tak pernah disapa? Ini adalah kisah tentang mencintai dalam diam. Tentang seseorang yang tidak pernah diminta untuk datang, tapi jadi alasan untuk bertahan. Harapan yang disimpan rapi di pojok hati, tak pernah diminta untuk dibalas, hanya ingin dimengerti. "Jauh. Esok nanti atau selamanya" bukan sekadar cerita cinta. Ini adalah perjalanan jiwa-tentang perjuangan tanpa jaminan, tentang kehilangan tanpa kata, tentang kecewa yang tak terucapkan, dan tentang harapan yang tetap tumbuh meski tahu ia tak akan pernah dipetik. Jika kamu pernah berharap pada seseorang yang bahkan tak tahu kamu ada, mungkin cerita ini adalah tentangmu juga. Karena mencintai yang paling tulus, kadang justru tak perlu memiliki-cukup mengikhlaskan, dan diam-diam mendoakan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines