We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Mr. & Mrs Albrecht

Mr. & Mrs Albrecht

  • WpView
    Reads 25,365
  • WpVote
    Votes 432
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadMatureComplete Thu, Jul 24, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Arga baru saja melangkah keluar kamar, ponsel yang sempat tertinggal kini sudah di tangan. Namun begitu ia membuka pintu, langkahnya terhenti. Sosok itu sudah berdiri di ambang pintu-dengan senyum licin yang terselip di sudut bibir merah basahnya. "Mas, sebentar..." ucapnya lirih, lalu tanpa ragu memutar kunci pintu hingga terdengar bunyi klik yang terasa nyaring di tengah keheningan. Ia lalu berbalik, perlahan, seperti sengaja mempermainkan waktu. Tatapannya menusuk tajam, lembut tapi memabukkan. Langkahnya mendekat, tumit sepatu kecilnya menjejak lantai dengan bunyi halus yang menggema di kepala Arga lebih dari yang seharusnya. Ia mendekat... dan terus mendekat-hingga napasnya menghangat di kulit wajah Arga. Saat jarak hanya tersisa desah, ia berjinjit lalu melingkarkan tangannya ke leher Arga. Tubuh mereka kini bersatu tanpa celah, dan hidung mereka bersentuhan. Arga yang refleks merangkul pinggang ramping itu tahu, ini adalah awal dari sebuah ujian yang tak diajarkan di kitab-kitab kuning pesantren. "Aku lagi pengen, Mas. Sekarang," bisiknya nyaris tak terdengar, namun cukup untuk membuat darah Arga mendidih pelan. Bibir itu mencium bibirnya-hangat, basah, berani. Bukan ciuman biasa. Ciuman perempuan yang tahu pasti bagaimana caranya merobohkan benteng pertahanan laki-laki yang selama ini berdiri dalam istighfar. Arga sempat hanyut, meski sesaat. Tapi nurani santrinya masih hidup. Ia menarik diri perlahan, menyisakan napas yang masih beradu, dan dekapan yang belum ingin dilepas. "Jangan di sini... rumah Ayah, nanti mereka nunggu kita kelamaan," bisiknya, berusaha terdengar tenang padahal dadanya bergemuruh. "Mereka pasti ngerti. Kita suami istri, kan?" bisiknya menggoda. "Sekali aja, Mas... aku udah nahan dari tadi. Aku pengen kamu. Banget." Arga menunduk. Nafasnya dalam. Istighfar meluncur di batin, cepat dan berulang. Tapi yang satu ini bukan setan-ini godaan yang berwujud indah, harum, dan nyata.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Their Marriage Agreement (The Wedlock Series #3)
  • My Agresif Wife
  • Kirana: Aku Bukan Simpanan
  • Imperfect Wife
  • Unpredictable Love
  • Midnight Love
  • His touch, Her desire
  • Iiiiiih, Mas Kahfi!

Sudah tamat dan sudah diterbitkan! Tersedia dalam Google Play : https://play.google.com/store/books/details?id=ppFRDwAAQBAJ Bagi Amara, Liam itu player berengsek yang harus dijauhi Tetapi ironisnya, ketika ayahnya memberi ultimatum pada Amara, ia malah memilih pria itu sebagai pasangan dalam pernikahan pura-puranya. Menurut logika Amara, sungguh tidak masuk akal bila ia sampai jatuh cinta pada pria yang dibencinya - maka Liam merupakan pilihan yang aman bagi tubuh dan hati Amara. Kau hanya ingin mempermalukanku, bukan?! Tapi ingat, begitu aku hamil - you are out. Kita akan bercerai. Bagi Liam, Amara itu cuma frigid dingin yang tidak menarik Satu-satunya keunggulan Amara adalah kenyataan bahwa wanita itu pewaris tunggal kaya-raya di perusahaan tempat Liam membangun karir. Jadi, ketika wanita gila itu menawarkan kesepakatan yang terlalu menggiurkan untuk bisa ditolak, Liam pun menyambarnya. Hidup bersama Amara tidaklah mudah - wanita itu memiliki sifat membingungkan dengan amarah meledak-ledak yang seringkali membuat Liam frustasi. Tapi, ketika ia menemukan kepingan masa lalu Amara, Liam mulai berubah pikiran. Amara mungkin tidak sedingin yang dipikirkannya. Hanya sayang, Liam tidak memiliki banyak waktu untuk mengubah pendapat Amara mengenai dirinya. Sentuhanku tidak akan pernah menyakitimu. It will only make you beg for more. Would you trust me?

More details
WpActionLinkContent Guidelines