Resep yang Tak Pernah Diucap

Resep yang Tak Pernah Diucap

  • WpView
    Membaca 1
  • WpVote
    Vote 1
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Rab, Mei 28, 2025
WpInfo
Fiksi
Romansa
Di kota kecil yang perlahan dilupakan waktu, berdirilah sebuah toko roti bernama Sebelum Senja-tempat di mana aroma kayu manis dan kenangan berbaur di udara. Adrian, pemilik toko yang pendiam dan penuh luka masa lalu, menjalani harinya dengan resep-resep lama yang tak lagi ia ubah. Hingga suatu sore, seorang perempuan bernama Nadira mulai datang menjelang tutup toko. Ia membawa buku catatan tua, diam-diam menulis puisi, dan duduk di sudut paling sunyi. Tak banyak kata terucap, tapi perasaan tumbuh perlahan. Lewat roti, puisi, dan kebersamaan yang tak pernah dijanjikan, keduanya mencoba menyembuhkan diri dari masa lalu yang menggenggam terlalu erat. Namun, seperti roti yang terlalu lama di dalam oven, perasaan yang tak pernah diucapkan bisa hangus oleh waktu. "Resep yang Tak Pernah Diucap" adalah kisah tentang diam yang menghangatkan, cinta yang tumbuh perlahan, dan keberanian untuk berkata jujur sebelum semuanya terlambat. 🌅 Temukan kehangatan di antara senja, roti, dan rasa yang tak pernah benar-benar hilang.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Dalam Diam, Aku Menjagamu
  • Aruna Tempat Kita Kembali
  • untuk dhea, dilembar terakhir
  • Rasa Tanpa Kata
  • Cegil Komplek [00L]
  • Tentang Lionel : Cerita dari Catherina
  • BACK TO FRIEND | JUNGHWAN X HAERIN (TAMAT)
  • SECANGKIR KOPI SEBELUM PULANG || END
  • The Spaces Between Our Words (TAMAT)
  • Love In Paris (COMPLETED)

Malam merangkak pelan, membawa serta dingin yang menembus sampai ke tulang. Di luar jendela tua itu, hujan turun perlahan seperti mengenali duka yang belum sempat pulih. Dan di dalam ruangan itu, ia duduk-diam, namun tidak tenang. Arlya Dhevani. Perempuan dengan tatapan setegar karang, namun menyimpan luka seperti lautan dalam. Tidak ada pelukan yang pernah ia minta, tidak ada bahu yang ia harapkan. Ia membiasakan diri untuk menjadi utuh sendirian, sebab dunia tak pernah benar-benar ramah pada hati yang lemah. Tiga tahun lalu, seseorang merenggut kenyamanan hidupnya. Sejak itu, ia menanam prinsip: jangan percaya siapa pun. Maka ketika semua orang menyerah padanya, Arlya bangkit. Dengan tangan sendiri, ia bangun dinding yang tak terlihat. Satu-satunya yang tersisa kini adalah dirinya sendiri-dan dendam yang ia lipat rapi dalam dada. Tapi di sisi lain kota, seorang pria berdiri di balik kabut jendela. Matanya memandangi rumah sederhana itu. Tidak pernah sekalipun ia mendekat. Tidak pernah sekali pun ia bicara. Namun, tidak juga ia pergi. Ia hanya berdiri-di sana-dalam diam. Menjaga. Mendoakan. Mengintai dari bayangan. Dan jika Arlya tahu bahwa dia masih hidup... apa yang akan ia lakukan?

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan