Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.
The Dandelion ||On Going||

The Dandelion ||On Going||

  • WpView
    Membaca 96
  • WpVote
    Vote 14
  • WpPart
    Bab 4
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sel, Jul 8, 2025
WpInfo
Fiksi Penggemar
[ Warning!! 🚫🚫🚫 Dilarang bocik kesini ya, ada kejahatan, kata kasar, dan hal dewasa lainnya disini. Mohon kerja samanya. ] || Hei pren, Zay kembali membawakan cerita menarik. "Gue capek benci sama orang yang gue aja nggak bisa balas dendam atas perbuatan mereka ke gue." ~~ D.F.L. 🎃🎃🎃 Cahaya rembulan sedikit demi sedikit memasuki sebuah ruangan kecil yang terlihat temaram. Bau amis dan bangkai menusuk indra penciuman, hawa dingin menyelimuti ruangan itu. Gelap... Hampir saja orang yang berada didalam ruang itu berharap jika dirinya memang buta. Namun sepertinya keinginan itu kandas saat lampu ruangan itu menyala. Dipadukan dengan suara pintu yang dibuka. "Gimana kabar lo... Jalang?!" Suara Tanisa menggema. Tidak ada sahutan dari si empu, Dia Dandelion Fauzia Levina. "Enakkan hukumannya? mau ditambah nggak? Makanya nggak usah ngelawan jadi jalang. Hahaha tapi nggak papa deh, gue jadi bisa mainin tubuh lo ini." Masih diam... "Ahh iya, gue punya kerjaan buat lo. Kayanya kali ini bakal lebih seru. Mau nggak? Bonusnya sih lo pasti bakal seneng." ucap Tanisa sembari menyayat paha Auzi yang terekspos. "Jadi Jalang nya club." Deg... "Lo mau kan? Secara lo cuma budak gue disini, jadi lebih baik lo ikuti perintah gue sebelum foto telanjang lo itu gue sebar, sekalian biar atm gue nambah." ucap Tanisa menyeringai. Setelah puas memberikan sayatan pada setiap bagian tubuh Auzi, Tanisa pun keluar dan menghilang dari balik pintu. Tatapan mata Auzi menunjukkan kekosongan. Perlahan lahan, sebuah cairan bening kristal menetes tepat di atas luka menganga di pahanya. "AAAKKKHHH, BANGSAT... BRENGSEK... ANJING LO TANISA!! hikss... Kenapa harus gue? KENAPA?! AAKKKHH..." Lalu apakah Auzi akan berusaha kabur dari mereka? Atau hanya pasrah? Apakah ada seorang penolong yang akan datang? ________________ Inilah kisah Si Dandelion. Kalo penasaran tinggal baca. Jangan lupa follow, vote, comment banyak Selamat menik
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#344
siksaan
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Arunika
  • ZIA-IE
  • Teman Lama (Empat)
  • LOVE STORY QIANARRA
  • NIDA ( END )
  • DRAFENZO SHAQUILLE
  • Amor Eterno
  • Abu Abu [ completed ]
Arunika

Baca aja duluu bestii, pasti menarik kok. Dijamin, hehe ____________ SMA Bumi Nusantara, sekolah terbaik di Indonesia. Dengan segudang prestasi yang mencetak para alumni berkualitas. Banyak media yang kerap memberitakan betapa unggulnya sekolah ini. Dan Keisya Renata, telah resmi menjadi bagian dari sekolah tersebut. Tapi Ironisnya, apa yang diberitakan tak sesuai realitas yang ada. Hukum dan sistem didalamnya tumpul ke bawah. Sekolah ini adalah surga bagi yang berkuasa, dan neraka bagi yang tak berdaya. Awalnya Keisya berpura-pura untuk tak peduli. Sampai akhirnya sebuah kasus menyeretnya untuk menjadi target para penguasa. Dari situlah perlawanan Keisya dimulai. ______ Keisya memejamkan mata. Napas gadis itu memberat. Ada dua hal yang bisa ia lakukan. Tetap diam, menahan semuanya, membiarkan ini berlalu begitu saja. Atau melawan. Tapi sialnya, darah Keisya sudah mendidih. Persetan dengan konsekuensinya. Tanpa peringatan, tangannya menepis cengkeraman Michella, lalu dalam gerakan cepat, ia memelintir tangan gadis itu. Michella berteriak. Wajahnya terkejut bukan main. Tapi Keisya tidak berhenti sampai di situ. Ia membalas jambakan tadi dengan lebih kasar, membuat Michella mengerang kesakitan. "Apaan sih lo?!" Michella mengumpat. "Apaan sih lo?!" Keisya menirukan nada suara Michella dengan mengejek. Lalu, dengan satu dorongan kuat, ia melempar tubuh Michella hingga gadis itu tersungkur ke lantai. Semuanya membeku. "Eh, berani banget sih lo-" Lucy maju, tapi Keisya lebih cepat. Satu tendangan terarah tepat mengenai perut Lucy, membuat gadis itu jatuh terduduk sambil meringis. Keisya menarik napas, lalu melempar tasnya ke lantai. Tangannya menggulung lengan seragam ke atas. "Yuk, rame-rame gue ladenin," tantang Keisya.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan