MEMELUK REMBULAN

MEMELUK REMBULAN

  • WpView
    Reads 169
  • WpVote
    Votes 24
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing1h 5m
WpMetadataNoticeLast published Wed, Apr 15, 2026
Historical romance Periode konflik Jayakatwang (1292) - Pemberontakan Ra Kuti (1319) Wiraja adalah sebuah bayangan. Itu yang selalu dia ketahui. Tumbuh dengan identitas yang kabur, hidup mengembara, dan berkeliaran kesana kemari membuat dia tidak terlalu peduli dengan cinta. Banyak gadis yang sudah pernah dia jumpai dari berbagai macam penjuru dunia. Tapi baru kali ini, dia jatuh cinta pada seorang gadis, yang sebenarnya tidak terlalu baik. Dia berisik, tertawa keras dan berbicara asal. Tapi itulah yang membuat Wiraja jatuh cinta. Dia jatuh cinta pada gadis paling bersinar di seluruh kota Daha. Namun seperti yang sudah-sudah, Wiraja tidak pernah menetap di tempat yang sama. Tapi kali ini dia berjanji akan segera menyelesaikan tugasnya agar bisa segera kembali ke kota Daha menemui pujaan hatinya. Laki-laki yang tidak pernah menetap itu baru kali ini merasa ingin pulang ke rumah. Dan rumah yang dia tuju sekarang adalah.....Ken Wulansari.
All Rights Reserved
#3
bulan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nyanyian Sunyi Sang Sundayana
  • Hujan Rinduku (Keluarga, Cinta, dan Impian) ☑️
  • 𝐒𝐡𝐞'𝐬 𝐌𝐲 𝐎𝐛𝐬𝐞𝐬𝐬𝐢𝐨𝐧 { 𝗢𝗚 }
  • Panji Semirang
  • Gema Masa Lalu (Echo From the Past)
  • INTOXICATING
  • BENAR UNTUKMU [COMPLETE]
  • SEKETIKA BERUBAH
  • Shanarqie

Di tanah Kawali yang berembun, lahirlah seorang putri yang ditakdirkan bukan untuk dirinya sendiri. Dyah Pitaloka Citraresmi, sekar Sunda dari istana Galuh, tumbuh di bawah kasih ibunda dan kebijaksanaan ayahandanya, Prabu Linggabuana. Ketika surat pinangan dari Majapahit datang, dunia berubah. Di balik nama besar Hayam Wuruk dan bayangan Gajah Mada, cinta berubah menjadi medan kehormatan. Dari Sungai Cikawali yang bening hingga tanah Bubat yang merah, langkah Pitaloka menjadi jembatan antara cinta dan martabat. Ia bukan sekadar putri-ia adalah nyanyian yang lahir dari air mata, doa, dan darah bangsanya. Nyanyian Sunyi Sang Sundayana adalah kisah tentang cinta yang patah sebelum sempat berbunga, tentang kehormatan yang dijaga sampai napas terakhir, dan tentang nyanyian abadi dari tanah Sunda yang tak pernah berhenti meratap sejak hari darah itu di Bubat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines