DEI INVENTA

DEI INVENTA

  • WpView
    Reads 385
  • WpVote
    Votes 110
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 23, 2025
WpInfo
Fiction
Historical
Pada abad ke-17, saat salju menyelimuti biara-biara tua dan manusia masih percaya bahwa setiap petir adalah amarah surga - dunia terbelah oleh keyakinan akan dua Tuhan yang saling bertentangan. Perang meletus bukan karena kekuasaan, tetapi karena iman. Negara-negara Eropa terjebak dalam konflik tak berkesudahan, memaksa setiap manusia untuk memilih: percaya, atau dilenyapkan. Di tengah kabut dogma dan darah, Elias, seorang yatim piatu yang dibesarkan di Biara Azuré, mulai mempertanyakan siapa dirinya - dan siapa Tuhan yang selama ini ia sembah. Satu malam, ia menemukan naskah terlarang yang membuka pintu pada kebenaran yang seharusnya tak pernah dibuka.
All Rights Reserved
#4
krisis
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Catatan Seorang Pemikir volume 2
  • Regen of Zonneschijn
  • Start From The Sword
  • Deo Juvante

Di antara senyapnya jagat dan gema nalar manusia, lahirlah tanya yang tak henti beresonansi: mengapa langit begitu teratur, tapi manusia begitu kacau? Volume kedua ini bukan sekadar lanjutan-ia adalah belokan tajam menuju dimensi lain pemikiran. Rehan, anak kecil yang tak puas dengan jawaban kosong, mulai merumuskan semestanya sendiri. Ia menyoal keberadaan Tuhan dalam ruang waktu, bertanya tentang keadilan dalam gravitasi sosial, dan menyangsikan kekudusan yang tidak bisa diuji logika. Di balik bintang dan kitab, antara hukum Newton dan prinsip Syafi'i, narasi ini menggugat: apakah iman adalah cahaya, atau sekadar ilusi optik dalam ruang berpikir yang dibekukan? Ketika babak Yusuf kembali hadir, kita tidak lagi membaca anak kecil. Kita membaca suara semesta yang pernah disangkal: filsafat yang dibakar namun abunya membentuk galaksi baru dalam akal. Teologi tak lagi tunggal, waktu tak lagi linier. Semua menjadi ruang debat-antara yang mutlak dan yang mungkin. Buku ini bukan bacaan. Ia adalah peristiwa dalam kepala.

More details
WpActionLinkContent Guidelines