"Kamu Tidak Ingat Aku" --- > Ruang keluarga sore itu sunyi. Hanya suara jarum jam yang terdengar, berdetak lambat seperti detak jantung yang menahan sesuatu-entah kecewa, atau rindu. Dia duduk di ujung sofa panjang, menatap keluar jendela. Sinar matahari sore menyentuh pipinya, tapi tak ada hangat yang terpantul dari sorot matanya. Tatapannya kosong. Bahkan dunia di luar jendela pun seolah tak menarik perhatiannya. Aku berdiri tak jauh darinya, tapi dia bahkan tidak menoleh. Mungkin memang sudah tidak mengenal aku lagi. Atau mungkin... dia bahkan tak ingin mengenal. Dulu, dia adalah seseorang yang paling sulit diam. Senyumnya bisa menghapus lelah. Tertawanya... dulu, adalah musik paling jujur yang pernah aku dengar. Tapi hari ini... dia seperti kanvas kosong. Tak ada warna. Tak ada bekas dirinya yang dulu. "Hei..." suaraku pelan, nyaris seperti doa. "Kamu masih ingat aku?" Dia menoleh perlahan. Mata kami bertemu. Tapi tak ada apa-apa di sana-tidak ada pengakuan, tidak ada kehangatan. Hanya tatapan biasa... dari orang asing. "Maaf..." katanya pelan. "Kita pernah kenal, ya?" Napasku tercekat. Kalimat itu menusukku lebih tajam dari apapun. Tidak. Bukan karena dia lupa. Tapi karena aku masih ingat semuanya. Aku ingat saat kita lari di bawah hujan, tanpa payung. Aku ingat saat dia memelukku waktu aku takut gelap. Aku ingat semua... bahkan ketika dia sudah melupakan segalanya. "Nggak apa-apa," jawabku akhirnya. Senyumku tipis, palsu, tapi cukup untuk menutupi gemetar di dadaku. Dalam hati aku berbisik, kalau kamu lupa segalanya... aku akan buat kamu jatuh cinta lagi. Dari awal. Dari nol. Dari aku yang sama. Karena aku nggak butuh kamu yang baru-aku cuma ingin mengembalikan dirimu yang dulu.*yang selalu ceria* ------------------------ by sy
More details