Rinai Jiwa yang Bertaut.

Rinai Jiwa yang Bertaut.

  • WpView
    LECTURES 114
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Chapitres 4
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication lun., janv. 12, 2026
Pertemuan pertama mereka terjadi di bawah hujan deras yang mengguyur kota untuk waktu yang cukup lama. Rinai telah duduk di antara tumpukan kotak kayu hingga tubuhnya menggigil, tetapi gadis itu tak beranjak sedikitpun. Ia abaikan protes yang dikeluarkan tubuhnya dan duduk lebih lama di sana, membiarkan tiap tetesan air yang terasa bagai jarum itu menusuk tubuhnya lebih lama, berharap segala lara dalam hati dapat luruh bersama air hujan. Ketika melihat Rinai, Jiwa seolah melihat kilas balik akan dirinya beberapa tahun lalu. Jiwa menarik gadis itu untuk berteduh karena ia tahu mau selama apa pun menyiksa diri di bawah hujan, tak akan ada perubahan yang berarti, sebab ia pernah berada di posisi yang hampir sama: putus asa berharap berharap eksistensinya dapat lebur bersama tiap tetesan air yang berjatuhan.
Tous Droits Réservés
#284
healing
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Badai Kepulangan.
  • MARKA; yeonbin AU
  • °°Love And Secret°° (COMPLETE)
  • I Miss Rain
  • Unexpected Bonds
  • Naruto : Returning Heaven
  • rain

Semuanya Hanya Tentangmu Muhi, seorang gadis yang tenggelam dalam keputusasaan, berdiri di tepi hidupnya sendiri, siap melangkah menuju akhir. Namun, di detik terakhir, seorang pemuda menghentikannya. Dia duduk di sampingnya, memeluk tubuh mungil Muhi yang rapuh, seolah ingin menggenggam setiap serpihan yang hampir hancur. Pemuda itu menjadi lentera kecil dalam kegelapan Muhi, menunjukkan jalan keluar dari luka yang selama ini membelenggunya. Dia membuat Muhi percaya bahwa kata-kata memiliki kekuatan untuk menyembuhkan, hingga Muhi menemukan pelarian dalam menulis, mengubah rasa sakitnya menjadi keindahan yang abadi. Namun, pemuda yang pernah menjadi penyelamat itu, tanpa sadar, berubah menjadi sumber luka baru. "Tragedi lama hanya digantikan dengan tragedi yang lebih luar biasa," ucapnya dengan senyuman dingin yang menghancurkan Muhi perlahan. Kata-kata itu menjadi bayangan yang terus menghantui, bahkan sebelum dia benar-benar melemparkan Muhi ke dalam jurang trauma yang lebih dalam. Yegi, pemuda itu, mungkin tidak tahu, atau mungkin tidak peduli, bahwa gadis yang dia hancurkan telah menemukan kekuatannya sendiri. Muhi mengabadikan semua luka, semua tangis, dalam karya-karyanya-sebuah upaya terakhir untuk bangkit dari kehancuran. Tapi, dalam prosesnya, ia tak tahu apakah tulisannya akan menyelamatkannya atau justru menyeretnya ke arus yang lebih gelap dan mengguncang.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu