Kamar No. 9

Kamar No. 9

  • WpView
    Reads 18
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 1, 2025
Setiap malam jam dua, suara itu datang dari kamar No. 9-padahal kamar itu kosong. Katanya. Alya tak pernah percaya hantu. Tapi sejak ia pindah ke kosan tua yang lembap dan sunyi itu, keanehan demi keanehan mulai terjadi. Laci yang terbuka sendiri. Lagu klasik yang mengalun dari lorong kosong. Dan mimpi-tentang seorang gadis dengan mata kosong yang berdiri di depan pintu... pintu kamar No. 9. Semua penghuni bilang, kamar itu sudah di kunci sejak sepuluh tahun lalu. Semua orang bilang, jangan pernah mencoba membukanya. Tapi Alya merasa dia pernah tinggal di sana. Dan semakin ia mencoba melupakan, semakin kamar itu memanggilnya kembali. Ada sesuatu yang terkubur di balik dinding kamar No. 9. Sesuatu yang tak mau di lupakan. Dan Alya adalah kuncinya. Kau bisa pindah, tapi masa lalu tidak akan pernah membiarkanmu pergi.
All Rights Reserved
#37
masakecil
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dalam Diam, Aku Menjagamu
  • LANGIT DI BALIK JENDELA
  • Rahasia di Balik Senyumnya
  • Misteri di asrama tua
  • Tentang Lionel : Cerita dari Catherina
  • WHISPERS IN THE DARK
  • AIRen
  • Anastasia
  • jangan percaya seseorang
  • Dalam Bayangan Ketakutan: Kumpulan Kisah

Malam merangkak pelan, membawa serta dingin yang menembus sampai ke tulang. Di luar jendela tua itu, hujan turun perlahan seperti mengenali duka yang belum sempat pulih. Dan di dalam ruangan itu, ia duduk-diam, namun tidak tenang. Arlya Dhevani. Perempuan dengan tatapan setegar karang, namun menyimpan luka seperti lautan dalam. Tidak ada pelukan yang pernah ia minta, tidak ada bahu yang ia harapkan. Ia membiasakan diri untuk menjadi utuh sendirian, sebab dunia tak pernah benar-benar ramah pada hati yang lemah. Tiga tahun lalu, seseorang merenggut kenyamanan hidupnya. Sejak itu, ia menanam prinsip: jangan percaya siapa pun. Maka ketika semua orang menyerah padanya, Arlya bangkit. Dengan tangan sendiri, ia bangun dinding yang tak terlihat. Satu-satunya yang tersisa kini adalah dirinya sendiri-dan dendam yang ia lipat rapi dalam dada. Tapi di sisi lain kota, seorang pria berdiri di balik kabut jendela. Matanya memandangi rumah sederhana itu. Tidak pernah sekalipun ia mendekat. Tidak pernah sekali pun ia bicara. Namun, tidak juga ia pergi. Ia hanya berdiri-di sana-dalam diam. Menjaga. Mendoakan. Mengintai dari bayangan. Dan jika Arlya tahu bahwa dia masih hidup... apa yang akan ia lakukan?

More details
WpActionLinkContent Guidelines