Malam merangkak pelan, membawa serta dingin yang menembus sampai ke tulang. Di luar jendela tua itu, hujan turun perlahan seperti mengenali duka yang belum sempat pulih. Dan di dalam ruangan itu, ia duduk-diam, namun tidak tenang. Arlya Dhevani. Perempuan dengan tatapan setegar karang, namun menyimpan luka seperti lautan dalam. Tidak ada pelukan yang pernah ia minta, tidak ada bahu yang ia harapkan. Ia membiasakan diri untuk menjadi utuh sendirian, sebab dunia tak pernah benar-benar ramah pada hati yang lemah. Tiga tahun lalu, seseorang merenggut kenyamanan hidupnya. Sejak itu, ia menanam prinsip: jangan percaya siapa pun. Maka ketika semua orang menyerah padanya, Arlya bangkit. Dengan tangan sendiri, ia bangun dinding yang tak terlihat. Satu-satunya yang tersisa kini adalah dirinya sendiri-dan dendam yang ia lipat rapi dalam dada. Tapi di sisi lain kota, seorang pria berdiri di balik kabut jendela. Matanya memandangi rumah sederhana itu. Tidak pernah sekalipun ia mendekat. Tidak pernah sekali pun ia bicara. Namun, tidak juga ia pergi. Ia hanya berdiri-di sana-dalam diam. Menjaga. Mendoakan. Mengintai dari bayangan. Dan jika Arlya tahu bahwa dia masih hidup... apa yang akan ia lakukan?
More details