14 parts Ongoing Langit Jakarta sore itu selalu terasa sama bagi Deshita kelabu, pengap, dan menyesakkan. Setiap harinya adalah sebuah rutinitas yang menguras energi, sebuah perjuangan tak henti untuk sekadar bernapas di tengah tuntutan masalah yang tak ada habisnya, ekspektasi keluarga yang membebani, dan hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur. Dia merasa seperti sehelai daun kering yang terombang-ambing tanpa arah, lelah mencari tempat untuk berlabuh. Senyumnya semakin tipis, tawanya semakin jarang, dan yang tersisa hanyalah rasa frustasi yang mengendap di dasar hatinya. Ia merindukan ketenangan, merindukan rasa nyaman yang sudah lama hilang.
Di tengah keputusasaan itu, takdir mempertemukannya dengan Seseorang yang menjadi penyelamat hidupnya di tegah keterpurukan. Perlahan, kehadirannya mulai mengubah warna dunia Deshita yang semula monoton. Dia tidak datang dengan solusi ajaib, melainkan dengan telinga yang mau mendengar, bahu yang siap menopang, dan tatapan mata yang penuh pengertian. Bersamanya, Deshita menemukan ruang untuk menjadi dirinya sendiri, tanpa beban dan tanpa topeng. Dia adalah tawa yang memecah kesunyiannya, pelukan yang mengusir dinginnya, dan bisikan lembut yang menenangkan badai dalam dadanya. Ia tak pernah tahu bahwa "rumah" itu bukan selalu tentang sebuah bangunan, melainkan tentang seseorang yang bisa membuatmu merasa utuh.