Love, Uninvited

Love, Uninvited

  • WpView
    Reads 54
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 26, 2025
Keynara Maheswari tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena satu cincin di jari manis. Tunangan? Iya. Tapi bukan karena cinta, melainkan karena wasiat dua nenek yang sudah almarhum. Dulu, sebelum pergi bareng dalam perjalanan ke Bali, dua nenek sahabatan ini memiliki misi menyatukan cucu mereka-Keynara dan Maverick Kael Wijaya-lewat perjodohan yang udah mereka rancang diam-diam. Sayangnya, Kael bukan cowok yang gampang bikin cewek merasa disayang. Dia cuek, kalem, datar, dan nyaris nggak pernah inisiatif buat ngobrol panjang. Keynara mulai ngerasa, ini bukan hubungan yang sehat. Tapi di satu sisi, umur dia juga udah bukan buat pacaran lucu-lucuan kayak anak SMA. Dia dilema-mau lanjut, tapi ngerasa capek sendiri. Mau mundur, tapi takut kecewain banyak pihak, apalagi almarhum neneknya. Cerita ini bukan cuma tentang cinta yang dijodohin, tapi juga soal ngebangun komunikasi, belajar paham satu sama lain, dan berani ambil keputusan meskipun berat. Apakah Keynara akan tetap bertahan bersama Kael yang dingin, atau justru memilih jalan sendiri demi menemukan versi bahagianya sendiri?
All Rights Reserved
#432
tunangan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Aku & Kamu Kita
  • Patah di titik terendah
  • Xyzie Andrean
  • ADIKARA ELUSIF (END)
  • Bukan Cerita Kita
  • Angel To Raya (END)
  • Ikhtiar Menjemput Cinta [REVISI + END]
  • Puing luka

Qil... maaf, gue nggak sadar sama apa yang barusan kita lakuin," ucap Mohan, suaranya lirih, penuh penyesalan. Namun penyesalan itu tak mampu membendung luka di dada Aqila. Ia menatap Mohan dengan mata yang basah dan penuh kekecewaan. Suaranya pecah, histeris, "Diem lo! Gue salah apa, Mohan? Kenapa lo jahat banget sama gue? Gue benci lo, Mohan! Akhhhhh!!" Jeritannya menggema, memecah malam yang sepi. Mohan panik. Ia mendekat, mencoba menenangkan dengan memeluk tubuh Aqila yang bergetar. Tapi Aqila memberontak, menolak sentuhan itu seolah menyentuhnya adalah membuka kembali luka yang belum sembuh. "Lepasin! Lepasin gue! Jangan lakuin itu lagi... Sakit... Sakit!" isaknya keras. Mohan terdiam sesaat, menelan semua rasa bersalah yang menyesakkan. Ia mengendurkan pelukannya, menatap wajah Aqila yang basah oleh air mata. Dengan lembut, ia genggam wajah Aqila, memaksanya menatap ke arahnya. "Oke, gue lepasin. Tapi plis, Qil... Tenang dulu, oke?" Aqila hanya terisak. Tidak menjawab. Tidak memukul. Tidak menolak. Tapi juga tidak menerima. Malam itu menjadi saksi, bahwa kadang maaf tidak cukup. Ada luka yang butuh lebih dari sekadar kata-kata untuk sembuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines