Alreine: Surat Dari Langit

Alreine: Surat Dari Langit

  • WpView
    Reads 119
  • WpVote
    Votes 25
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadComplete Mon, Jun 2, 2025
Arka, pemuda yang suka menyendiri, mendaki ke tebing untuk mencari inspirasi. Ia melihat sosok Bidadari Muda yang terdampar di Bumi. Alrein menceritakan bahwa ia terjatuh ke bumi saat terbang melewati batas dunia dan tak bisa kembali ke langit tanpa sayapnya yang hilang.... Di tebing tempat mereka pertama bertemu, Alrein mengucapkan selamat tinggal. Ia mencium Arka untuk terakhir kalinya, lalu terbang ke langit dengan air mata yang jatuh seperti hujan cahaya. Arka berdiri di tebing itu setiap senja, berharap bisa bertemu kembali-meski hanya dalam mimpi.
All Rights Reserved
#81
bidadari
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dua remaja ingin menjadi yang terkuat
  • cahaya yang memilih gelap.
  • 𝓙𝓮𝓳𝓪𝓴 𝓚𝓮𝓷𝓪𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓭𝓲 𝓤𝓳𝓾𝓷𝓰 𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪
  • Cermin di Ujung Jalan
  • GRIZLEN {On Going}
  • Araleya Titik Temu Semesta (COMPLETED)
  • Repeating Destiny
  • Cerita di Balik Cermin
  • Rahasia di Balik Senyumnya

Judul: Luar Maja: Yang Ingin Menjadi Terkuat Sinopsis Singkat: Di negeri tandus bernama Luar Maja, hidup seorang pemuda bernama Ardha. Ia bukan siapa-siapa. Bukan bangsawan, bukan pendekar, bahkan bukan pembelajar yang disegani. Namun satu hal yang ia miliki: keinginan untuk menjadi yang terkuat. Tapi ia segera sadar, kekuatan bukan soal otot dan pedang-melainkan jiwa dan kendali. Bab 1: Tanah Luar Maja Angin di Luar Maja tidak pernah berhembus lembut. Ia menyentuh wajah seperti cambuk kecil, mengangkat pasir, lalu membiarkannya menari dalam keputusasaan. Tanahnya retak, seperti hati para penghuninya. Dan langit? Langitnya terlalu biru untuk negeri sekeras itu-seakan mengejek dari atas sana, indah namun jauh, memberi cahaya namun tak memberi harapan. Di antara gurun yang tak subur dan dinding batu yang mengelilingi perkampungan, seorang remaja berumur enam belas tahun sedang mengayuh ember berisi air dari sumur yang dalam. Namanya Ardha. Tak banyak yang tahu siapa dia, dan mereka yang tahu pun tak peduli. Ia bukan anak pendekar, bukan murid akademi, bukan juga penerus nama besar. Ia hanya anak dari seorang ibu yang mati muda dan seorang ayah yang pergi tanpa alasan. "Kalau ingin makan, kerja. Kalau ingin jadi orang, bertahan." Itu satu-satunya nasihat dari pamannya yang pemabuk. Ardha menyimpannya, bukan karena itu bijak, tapi karena tak ada yang lain untuk disimpan. Tapi hari ini berbeda.

More details
WpActionLinkContent Guidelines