Benang Merah adalah perjalanan yang tak pernah benar-benar selesai-tentang waktu yang berjalan, tetapi perasaan yang tetap bertahan.
Aku kembali ke Bandung bukan karena keinginanku sendiri, melainkan karena keadaan yang memaksaku. Kata orang, kota ini lahir ketika Tuhan sedang tersenyum, tapi bagiku, keindahan yang mereka puji tak mampu menghapus jejak luka yang masih melekat hingga kini.
Sudah tiga tahun berlalu, tetapi setiap kali mendengar namanya, perih itu kembali menyeruak, seolah tak pernah benar-benar pergi. Ada kenangan yang terus berputar, ada kesedihan yang enggan mereda. Aku pikir aku telah melangkah maju, mencoba menjalin kisah dengan orang lain, menemukan jalan yang baru. Tetapi malam itu, di antara dinginnya udara Lembang dan gemerlap lampu yang memantul di permukaan danau, aku melihatnya.
Dia berdiri di sana-hanya beberapa langkah dari tempatku berada. Dan dalam sekejap, semua yang kupikir telah selesai kembali mencuat, menghadirkan pertanyaan yang selama ini kuhindari. Apakah waktu benar-benar mampu menyembuhkan? Atau benang merah itu masih ada, tak terputus meski tahun-tahun berlalu?
Percakapan kami dipenuhi keheningan yang berbicara lebih banyak daripada kata-kata. Aku ingin percaya bahwa aku sudah baik-baik saja, bahwa semua ini hanyalah pertemuan biasa-tetapi nyatanya, hati tidak bisa berdusta. Di antara perasaan yang belum sepenuhnya padam dan kenyataan yang harus kuterima, aku dihadapkan pada pilihan yang tak mudah: mengikhlaskan sepenuhnya, atau mengakui bahwa aku belum benar-benar pergi.
Benang Merah adalah cerita tentang kehilangan, keberanian, dan kejujuran. Tentang dua hati yang mencoba menemukan jawabannya, di sebuah malam yang menyimpan lebih banyak kenangan daripada yang ingin diakui.
All Rights Reserved