Dewa Kesuburan dari Dunia Lain

Dewa Kesuburan dari Dunia Lain

  • WpView
    Reads 849
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing35m
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 3, 2025
Setelah tewas ditabrak truk secara konyol, remaja biasa bernama Raka terbangun di dunia lain bernama Elaria. Dunia itu porak-poranda setelah perang besar melawan para monster, dan satu masalah fatal muncul: populasi pria hampir punah. Sebagai solusi terakhir, Dewi Dunia, Althea, mereinkarnasi Raka sebagai Dewa Kesuburan-satu-satunya makhluk dengan kekuatan untuk mengembalikan kehidupan manusia, baik di tanah maupun di rahim. Dari kuil megah hingga medan perang, dari ritual suci hingga konflik politik, Raka bukan cuma harus belajar menjadi dewa... tapi juga menjadi simbol harapan dalam dunia yang hampir mandul. Satu kesalahan, dan umat manusia bisa punah.
All Rights Reserved
#334
manwha
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Mutowifku Tersayang
  • PUTERA MUHD:BERIKAN KU WAKTU[COMPLETE]
  • Melting Pole
  • Dia Selamat, Tapi Kenapa Dia Tak Datang Cari Aku?
  • Asmaraloka Saptakāla [COMPLETED STORY]
  • Cinta Bersemi di Dunia Lain
  • Thorn of the Silver Crown
  • senyuman Terakhir [ C ]

Prolog Mekkah selalu punya cara membuat hati bergetar. Bukan hanya oleh lantunan adzan yang menggema dari Masjidil Haram, bukan pula oleh jutaan langkah yang berputar mengelilingi Ka'bah tanpa henti. Tapi oleh sesuatu yang tak pernah bisa dijelaskan-takdir yang Allah titipkan di antara doa dan air mata. Namaku Fadhlan. Aku seorang mutowif-memandu para tamu Allah yang datang dari berbagai negeri untuk menunaikan ibadah Umrah. Tugasku sederhana: membimbing mereka membaca niat, menuntun langkah mereka dalam thawaf dan sa'i, serta memastikan perjalanan ibadah itu lancar dan terjaga. Namun, dalam perjalanan yang lalu, tugasku berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Aku masih ingat saat pertama kali menatapnya. Seorang wanita muda, sederhana dalam balutan kerudung putih, tapi wajahnya memancarkan cahaya yang menenangkan. Senyumnya tipis, lembut, seperti doa yang dipanjatkan dalam diam. Ia datang bersama ibunya, meninggalkan ayah yang sedang sakit keras di tanah air. Namanya... Melati. Sembilan hari bersama rombongan Umrah seharusnya hanya meninggalkan kenangan singkat, sebagaimana biasanya. Tapi hari-hari itu menumbuhkan sesuatu yang berbeda. Sebuah perasaan yang anehnya, bukan mengganggu ibadahku, melainkan justru membuat setiap doa terasa lebih hidup. Namun, Allah punya cara sendiri menjaga rahasia-Nya. Ada kalanya doa yang kita panjatkan terasa menggantung di langit, tanpa jawaban. Ada kalanya cinta yang tumbuh justru diuji dengan jarak, waktu, dan keraguan. Dan aku... hanya bisa berserah. Kini setiap kali aku berdiri di hadapan Ka'bah, aku selalu mengingatnya. Wajah itu, senyum itu, doa-doanya. Entah di mana ia berada, entah bagaimana takdir menuliskannya. Yang kutahu, namanya tetap hidup dalam hatiku. Mutowifku tersayang... begitu ia pernah menyebutku dalam candanya. Sebuah panggilan yang sederhana, tapi cukup untuk membuat setiap langkahku terasa berarti.

More details
WpActionLinkContent Guidelines