SEASONS

SEASONS

  • WpView
    Reads 10
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jun 6, 2025
a short story Ada yang tumbuh dalam diam tanpa diminta. Musim tak pernah mempertemukan karena memang belum waktunya. Dan kemudian menghilang, bukan karena lupa tapi memang tak pernah ingin tinggal. Kadang hidup bukan tentang ditakdirkan, tapi soal waktu dan keadaan yang belum berpihak. Faya, pikirannya selalu terganggu akan dua hal, Asmara dan Pendidikan. Dia tidak berharap lebih tentang nasib asmaranya, tetapi hal itu sering menggangu hidupnya. Katanya, diantara kedua itu harus ada yang dikorbankan. Lalu, bagaimana Faya menghadapi kedua hal tersebut, bisakah ia keluar dari "jebakan" yang ia perbuat sendiri?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jauh. Esok Nanti atau Selamanya
  • Bunga Desa
  • Elegi Cinta tak Berlabuh
  • Atur Waktu
  • Together with The Sundown
  • DIBALIK TAKDIR YANG ASING
  • Masih Ada Kamu di Setiap Luka [TAMAT]
  • ANKITA ANAHATA
  • Erlangga
  • 𝑴𝒆𝒏𝒄𝒊𝒏𝒕𝒂𝒊𝒎𝒖, 𝑳𝒖𝒌𝒂 𝑩𝒂𝒈𝒊𝒌𝒖✓

Bagaimana jika perasaan itu tumbuh tanpa izin, hadir tanpa undangan, dan tinggal terlalu lama dalam hati yang tak pernah disapa? Ini adalah kisah tentang mencintai dalam diam. Tentang seseorang yang tidak pernah diminta untuk datang, tapi jadi alasan untuk bertahan. Harapan yang disimpan rapi di pojok hati, tak pernah diminta untuk dibalas, hanya ingin dimengerti. "Jauh. Esok nanti atau selamanya" bukan sekadar cerita cinta. Ini adalah perjalanan jiwa-tentang perjuangan tanpa jaminan, tentang kehilangan tanpa kata, tentang kecewa yang tak terucapkan, dan tentang harapan yang tetap tumbuh meski tahu ia tak akan pernah dipetik. Jika kamu pernah berharap pada seseorang yang bahkan tak tahu kamu ada, mungkin cerita ini adalah tentangmu juga. Karena mencintai yang paling tulus, kadang justru tak perlu memiliki-cukup mengikhlaskan, dan diam-diam mendoakan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines