Mawas Diri

Mawas Diri

  • WpView
    Reads 24
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 9, 2025
Ini bukan buku pengembangan diri. Buku ini memilih judulnya sendiri, cerita tentang kompleksitas kehidupan seorang Pria bernama Tara yang selalu berusaha mawas diri di tengah perjuangan membahagiakan keluarga kecilnya, menghidupi keluarga orang tuanya, sampai bertarung dengan tekanan dan intrik di tempat kerja. Cerita ini adalah sebuah kisah nyata, yang akan menjadi sebuah prasasti yang menjadi bukti sejarah betapa rumit kehidupan manusia. Sebuah cerita tentang perjuangan, persahabatan, dan warna kehidupan. Sebuah cerita yang memilih judul dan akhirnya sendiri.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Saat Cinta Tak Terucap
  • To Heal
  • BALADA KEHIDUPAN
  • Love Is Blind
  • GISTARA (TERBIT)
  • Melangkah Tanpa Ragu
  • Short Escape

Aira, seorang mahasiswi seni yang introvert, merasa nyaman dengan dunianya yang sunyi. Di balik ketenangannya, ada luka lama yang masih mengganggu hatinya-rasa takut untuk jatuh cinta lagi setelah perpisahan traumatis dengan ayahnya. Ia memilih untuk hidup tanpa melibatkan perasaan, menjalani hari-harinya dengan rutinitas yang aman dan terkontrol. Namun, semuanya berubah saat ia bertemu dengan Raka, seorang mahasiswa film yang baru pindah ke kampusnya. Raka yang ceria dan penuh perhatian membuat Aira merasa tak nyaman, tetapi perlahan ia mulai melihat sisi lain dari diri Raka yang membuatnya merasa dihargai dan dipahami. Meskipun demikian, Aira masih diliputi ketakutan akan hubungan yang lebih dalam. Seiring berjalannya waktu, perasaan antara mereka semakin berkembang, tapi Aira berusaha keras untuk menghindarinya. Dia takut jika dirinya membuka hati, luka lama itu akan terbuka kembali. Raka, yang jatuh cinta pada Aira, tidak ingin menyerah begitu saja. Dia tahu ada lebih banyak di dalam diri Aira, dan dia bersedia menunggu. Akankah Aira mampu menghadapi ketakutannya dan menerima cinta yang datang dengan perlahan? Ataukah ia akan terus membiarkan cinta yang indah itu hanya menjadi sesuatu yang tak terucap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines