our problems || Enhypen || Fiction

our problems || Enhypen || Fiction

  • WpView
    Reads 45
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Dec 2, 2025
menceritakan seorang 7 Pemuda yang kehilangan kedua orang tuanya mungkin salah satu dari mereka masih mempunyai orang tuanya tetapi, orang tuanya menganggap kalau mereka sudah membuangnya dan ada yang cemara tetapi tidak di dukung oleh ekonomi sehingga dibicarakan hal buruk.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Setiap Orang Ada Masa Nya -Enhypen
  • Adlana Rian C.
  • LASKAR SEVEN
  • KAMISAMA ARIGATO
  • This Is Not My House
  •  IDOLISH7 ( PERJUANGAN AKHIR RIKU  )
  • WHO ARE THEY?
  • i love you sister
  • Ours || Enhypen FF
  • The Quiet Orchestra

tujuh sahabat, dipersatukan oleh luka, bukan tawa. Selalu berselisih, tapi tak bisa lari. mereka menelan pahitnya hari, bersama-dalam diam yang penuh amarah. mereka, tujuh jiwa yang saling bersandar dalam diam. masing-masing menyembunyikan luka yang dalam-tak ingin dikasihani, tak ingin membebani. mereka tertawa di luar, tapi tenggelam perlahan di dalam. Karena bagi mereka, menjadi beban adalah luka yang lebih menyakitkan dari apapun. di antara tujuh sahabat itu, ada dua lelaki Riki dan Sunoo yang selalu tersenyum paling lebar, seolah dunia tak pernah menyakitkan. tapi di balik tawa mereka, tersembunyi kenyataan pahit: rumah tak pernah jadi tempat pulang. Mereka tak pernah benar-benar dianggap oleh keluarga, hanya bayangan yang berjalan di sela harapan yang hancur. Ceria mereka adalah topeng, dan luka yang mereka pendam... terlalu dalam untuk bisa diceritakan. mereka bertujuh, seolah kuat, seolah utuh. tapi di balik tawa yang mereka bagi, tersembunyi kesunyian yang tak pernah selesai. entah luka dari keluarga, cinta yang tak pernah kembali, atau perasaan tak pernah cukup, masing-masing menyimpan perangnya sendiri. tak satu pun yang bersuara, seakan takut menyusahkan. Mereka memilih diam, karena bagi mereka, membebani orang lain adalah dosa yang lebih menyakitkan daripada luka itu sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines