kaca salindra : pecahan terakhir

kaca salindra : pecahan terakhir

  • WpView
    LECTURES 35
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Chapitres 6
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication ven., juin 6, 2025
Tempat yang Tuhan Lupakan Mereka bilang aku seharusnya sudah mati malam itu-tapi nyatanya, aku bangun di tempat yang bahkan Tuhan pun mungkin tak mengenalnya. Tanahnya dingin, basah, dan berbau seperti logam dan debu yang tertimbun berabad-abad. Langitnya bukan langit-hanya kehampaan kelabu, tanpa bulan, tanpa bintang. Di sekelilingku, pohon-pohon tinggi menjulang, hitam seperti arang terbakar, dan tak satu pun dari mereka punya daun. Napasku mengepul pelan. Setiap tarikan terasa lebih berat, seolah udara di tempat ini belum pernah benar-benar dihirup siapa pun. Namaku Averine. Dan ini... bukan dunia tempatku berasal. Suara itu memanggil. "Bangunlah, Putri Pembawa Retakan," katanya. Aku tidak tahu siapa aku di tempat ini. Entah apakah aku yang menunggu mereka, atau mereka yang menungguku. Dan di antara keheningan yang menganga itu, satu pertanyaan terus bergema: Apa sebenarnya yang baru saja dimulai? ---
Tous Droits Réservés
#6
petualanganfantasi
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Grace Beyond the Spotlight!
  • REINKARNASI (END)
  • The Velvet Waltz
  • Lightshadow
  • Langitara
  • Lantern hollow
  • Terjebak di Pasar Anjaya Bawakaraeng
  • BATAS TAKDIR {On Going}
  • Misteri di Balik Kabut Gunung Salak

Langit sore itu kelabu, seolah turut merasakan beban yang menghimpit dada Aira. Di balik jendela kaca lantai dua puluh empat, dunia tampak begitu jauh-tak peduli, tak ramah. Setiap hari, ejekan, hinaan, dan tatapan tajam menamparnya lebih keras dari kata-kata. Sekolah bukan lagi tempat belajar, tapi panggung penyiksaan batin. Aira menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah ke balkon apartemennya. Angin menerpa rambutnya yang panjang, seolah mengajak bicara. Ia menutup mata, melepaskan satu-satunya genggaman terakhir pada dunia ini. Dalam sekejap, tubuhnya melayang, jatuh, bebas... Gelap. Namun saat kesadarannya kembali, Aira tidak menemukan dirinya di pelataran apartemen. Ia terbangun di tempat asing-dalam sebuah ruangan batu tinggi, sempit, dengan jendela lengkung kecil yang menghadap hutan luas. Gaunnya bukan lagi seragam sekolah, melainkan kain panjang berenda seperti putri zaman dahulu. Di kejauhan, bunyi terompet dan gemuruh kuda menggema. Di mana aku? Satu hal yang pasti: ini bukan dunia yang ia kenal.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu