ABSENTIA

ABSENTIA

  • WpView
    Reads 1,330
  • WpVote
    Votes 122
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Aug 3, 2025
Sabina, gadis berusia 21 tahun, hidup dalam rumah yang seharusnya menjadi tempat paling hangat, tapi justru terasa paling dingin. Di dalam keluarganya yang terpandang, Sabina selalu menjadi bayangan yang tak terlihat. Tak ada pelukan, tak ada pujian, bahkan sekadar tatapan hangat pun jarang ia terima. Semua cinta dan perhatian seolah hanya diperuntukkan bagi saudarinya-Kina-yang hanya lebih tua satu tahun darinya. Kina selalu jadi pusat semesta. Pintar, manis, dan punya kepribadian yang anggun. Padahal Sabina pun tak kalah pintar, bahkan juga sangat cantik. Namun tak ada satu pun yang benar-benar melihatnya. Tidak ayah, tidak ibu, bahkan ketiga kakak lelakinya-Alvin si CEO, Raka sang atlet, dan Karel si kembaran Kina-selalu bertindak seolah Sabina hanyalah bagian kosong dari rumah itu. Sabina tumbuh menjadi pribadi yang rasional, dan tegas. Ia tidak pernah membiarkan perasaan mengaburkan pikirannya. Kuliah di jurusan Sastra Inggris, Sabina lebih memilih buku dan sunyi daripada percakapan yang terasa palsu. Sarkasme jadi pelindungnya. Ketidakpeduliannya terhadap sekitar bukan karena ia tidak bisa peduli-tapi karena tidak pernah ada yang peduli padanya lebih dulu. Namun ada satu hal yang terus menghantui pikirannyaApa salahnya? Kenapa semua orang bertingkah seolah ia tak pernah ada? Kenapa sejak kecil, bahkan tanpa ia mengerti alasannya, seisi rumah memperlakukannya seperti kesalahan yang tak pantas ditebus?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Reality: 1022
  • King Bullying [TELAH TERBIT]
  • Rewrite My Heart 2 [TERSEDIA DI GRAMEDIA]
  • Bahasa Sansekerta (Selesai)
  • KIARILHAM【END】
  • KEPERGIAN SENJA
  • Kalaya [END]
  • Rewrite My Heart [TERSEDIA DI GRAMEDIA]

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines