Berlabuh di Takdir-Nya

Berlabuh di Takdir-Nya

  • WpView
    Reads 681
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 24
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Oct 19, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
📖 Berlabuh di Takdir-Nya oleh - rn Muhammad Fahri Al-Ghifari tak pernah menyangka, jalan hijrahnya yang teguh bisa terguncang oleh satu perasaan yang datang perlahan-tanpa suara, tanpa aba-aba. Ia bukan sedang mencari cinta. Tapi sebuah mimpi, sejuk dan jelas, membuatnya mulai bertanya: "Apakah rasa ini bagian dari petunjuk... atau hanya lintasan hati?" Zeyana Maheera, gadis tenang dan kuat yang memilih berhijrah di usia muda, memegang prinsip meski berada di rumah yang tak sejalan. Di luar, ia terlihat tegar. Tapi malam-malamnya dipenuhi sujud yang meminta kekuatan untuk tetap bertahan, meski sering merasa sendirian. Ketika dua jiwa yang sedang bertumbuh di jalan Allah dipertemukan dalam sunyi, dalam perenungan, dan dalam doa yang saling menguatkan, mereka pun belajar bahwa cinta yang suci bukan datang karena ingin, tapi karena Allah mengizinkan. Sebuah kisah hijrah, keteguhan, dan cinta yang bernaung dalam iman. Karena cinta terbaik, bukan yang paling cepat datang. Tapi yang paling sabar menunggu. Dan jika Allah telah menetapkan, tak ada yang bisa menghalangi. Cinta itu akan berlabuh... di Takdir-Nya.
All Rights Reserved
#73
ceritahijrah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ternyata Takdirku adalah Kamu
  • Love Faith And Hope
  • Mahligai Cinta [END]✓
  • Love Story In Friendship [End]
  • Cinta Dalam Hijrah || SELESAI
  • Raden Aluna | END
  • When you love someone (END)
  • Langit Untuk Laut

JANGAN LUPA FOLLOW YA... terimakasih sudah mampir Ada cinta yang tidak perlu diumbar, cukup diam-diam mendoakan dari kejauhan. Karena kadang, mencintai yang paling dalam adalah saat memilih untuk menjauh. Aku, Cilla, gadis biasa yang sebentar lagi akan memulai hidup baru di UIN Rafah. Di usia delapan belas ini, hidupku seperti perjalanan kereta yang tak pernah berhenti di stasiun yang sama dua kali. Termasuk stasiun bernama Arsan. Dia pernah singgah. Pernah menjadi alasan senyumku setiap pagi. Pernah menjadi orang yang paling aku percaya. Tapi kami memilih pergi. Bukan karena tidak saling mencintai, tapi karena tahu: terlalu dekat bisa membuat segalanya salah arah. Kami memilih menjaga, meski harus saling menjauh. Dan kini, setelah waktu membawa kami ke dunia yang berbeda... Aku masih menyebut namanya dalam sujud terakhirku. Sementara aku tak tahu, apakah dia juga menyebut namaku saat langitnya mendung dan hatinya sunyi. Mungkin kami sedang menguji takdir. Atau... mungkin takdir sedang menguji kami. Karena jika benar cinta ini suci, maka tak perlu digenggam erat untuk dimiliki. Cukup dipercayakan kepada Allah. Dan jika suatu hari aku kembali bertemu dengannya, aku ingin bertanya satu hal: "Masihkah kamu menganggapku takdirmu, seperti dulu?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines