"Gue udah jatuh cinta sama lo, sejak pertama kali kita ketemu. Dan setelah itu mata cantik lo itu selalu merhatiin setiap gerakan gue. Dan gue sadar itu." Ucap Ilham Firmansyah, sang kapten basket itu dengan percaya diri.
Mata Novi membelalak tak percaya, "Hah! Kapan?! Sinting lo, ya?" Tukasnya tak terima.
"Gue nggak masalah terus diperhatiin kayak gitu, selagi itu lo orangnya. Dan gue mau, Lo jadi pacar gue."
Whatt!!!
"Kapan kita ketemu bambang? Kapan juga gue selalu merhatiin setiap gerakan, lo? Hah?! Kenal aja kagak!" Napas Novi memburu. "Ini bocah udah nggak waras emang kayaknya." Tanpa membuang waktu, Novi langsung melenggang pergi dengan perasaan jengah. Tak habis pikir dengan kelakuan adik kelasnya. Namun belum sempat pergerakannya jauh, tangannya langsung dicekal lembut. "Please, terima gue jadi pacar, lo. Gue suka banget sama lo, cuma lo yang bisa bikin hati gue bergetar, cuma lo yang selalu muncul dalam pikiran gue. Gue bakal cintai lo dengan sepenuh hati, dan gue bakal jadi cowok paling bahagia kalo lo mau terima cinta gue."
"Lo-" Novi sampai kehilangan kata-kata. Benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran cowok di hadapannya ini. Mendengar pernyataan cinta yang diucapkan sangat tulus oleh seseorang yang bahkan tak ia kenal. Lelucon macam apa ini?
Ilham menatap dalam gadis cantik di depannya, "Please. Gue mau ngelakuin apa aja, asal lo mau jadi pacar gue." Novi memandang cowok yang ia akui tampan itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
Bagaimana jadinya sang most wanted sekolah SMA Pelita Bangsa diam-diam harus mempunyai hubungan secara dadakan dan penuh paksaan dengan seorang kapten basket di sekolahnya yang notabenenya adalah adik kelasnya.
Masa SMA selalu identik dengan cerita cinta pertama-manis, sederhana, dan penuh harapan. Ayra tahu itu. Karena itu, ia memilih untuk tidak terlalu berharap pada kisah cintanya sendiri.
Hingga kehadiran Heksa Albara Davendra perlahan mengubah cara Ayra memandang perasaan. Dari obrolan ringan, kebersamaan sebagai sahabat, hingga rasa nyaman yang tumbuh tanpa disadari, Ayra mulai percaya bahwa hatinya tak salah memilih.
Namun, cinta tak selalu datang pada waktu yang tepat. Ketika perasaan semakin dalam, Ayra dihadapkan pada kenyataan yang memaksanya belajar tentang kecewa, menerima, dan arti mencintai tanpa memiliki.
Diary Ayra adalah kisah tentang cinta SMA yang sederhana, realistis, dan dekat dengan kehidupan remaja-tentang harapan yang tumbuh, perasaan yang tak selalu berbalas, dan proses pendewasaan diri di usia muda.