Peace Was Never Mine

Peace Was Never Mine

  • WpView
    LECTURAS 61
  • WpVote
    Votos 10
  • WpPart
    Partes 25
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mié, sep 2, 2026
WpInfo
Ficción
Romance
Apa sih kasih sayang? apa sih kehidupan yang nyaman dan tenang? gimana rasanya? ada gak sih orang yang bisa ngertiin kita? Katanya "Keluarga adalah tempat dimana kita dapat menemukan kekuatan, dukungan, dan cinta tanpa syarat. Mereka adalah mercusuar harapan ditengah badai kehidupan, Dan aku berharap mereka selalu menjadi lebih baik." Mungkin memang benar seperti itu tapi dari sudut pandang aku berbeda. ini ceritaku. Tentang jalan kehidupan dengan berbagai ujian berdatangan tanpa jeda disetiap harinya. Bangkit terus dan berjuang terus hingga rasa lelah semakin menumpuk dan akhirnya menyerah bukan lagi solusi. Tapi pasrah dan berjalan semestinya adalah pilihan terbaik. "Yang benar benar kuat bukan dia yang tidak pernah gagal, tapi dia yang memilih bangkit kembali walau sudah dijatuhkan berkali kali oleh harapan..." dan apa sih itu cinta? aku memang beruntung dapat cinta pertama dariseorang ayah terhadap anak perempuannya. tapi kalo soal asmara... rasanya beda. "cinta yang tulus adalah bukti bahwa hubungan akan baik baik saja, melewati semuanya bersama sama dan berakhir bahagia bersama sama."
Todos los derechos reservados
#3
nyata
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Nala dan Mas Juragan
  • Salah Status [END]
  • Nakula
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Prahara Lamaran [END]
  • Kembang Desa

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido