Ada satu hal yang tak pernah diajarkan di sekolah: bahwa menjadi paling pintar pun tak menjamin kamu akan merasa cukup.
Aku tahu itu karena aku mengalaminya.
Seorang siswa yang dikenal sebagai jenius di sekolahnya perlahan merasa terancam dengan kehadiran anak baru yang pendiam namun luar biasa cerdas. Awalnya, sang siswa berusaha mempertahankan "tahta" akademiknya dengan segala cara, tapi justru mendapati dirinya dipaksa untuk menghadapi hal yang selama ini ia hindari: ketakutan, kesepian, dan identitas yang palsu.
Kisah ini adalah perjalanan batin dua remaja dengan kecerdasan tinggi, tapi berbeda pandangan hidup. Di antara papan nilai, olimpiade, dan proyek sekolah, mereka belajar bahwa menjadi cemerlang bukan soal siapa yang paling atas, tapi siapa yang paling jujur
Namaku Raja Pradana. Sejak kecil, aku selalu berada di atas — juara kelas, bintang panggung, anak kebanggaan sekolah. Aku tak hanya pandai menghitung integral dan menghafal hukum Newton, tapi juga pandai membaca suasana, menyesuaikan diri, dan memenangkan simpati. Di mataku, kehidupan adalah panggung, dan aku adalah aktor utamanya.
Kudengar orang-orang menyebut namaku dengan kagum. “Anak itu jenius,” kata mereka. “Calon ilmuwan,” “Harapan bangsa,” dan label-label lain yang semakin hari semakin terasa seperti beban. Tapi aku menelan semuanya. Dengan bangga. Karena aku pikir — selama aku di atas, aku aman. Selama aku diakui, aku berarti.
All Rights Reserved