Story cover for David  by Scamax_lembang
David
  • WpView
    Reads 749
  • WpVote
    Votes 44
  • WpPart
    Parts 25
  • WpView
    Reads 749
  • WpVote
    Votes 44
  • WpPart
    Parts 25
Ongoing, First published Jun 06, 2025
Ada seorang pria dari kalangan elit dan terbilang turunan mereka adalah bangsawan dan ia bernama David, dia memiliki seorang kekasih yang bernama Vanesha. Malahan mereka kenal semenjak mereka masih kecil dan keluarga mereka begitu dekat, hanya ada suatu tragedi dimana mereka harus berpisah. Bahkan si Vanesha ini dijodohkan oleh orangtuanya ... Itu membuat David patah hati dan harus merelakan Vanesha dengan keputusan orangtuanya, hingga David terpuruk sampai ia sering datang ke club hanya sekedar menghilangkan rasa patah hatinya. Tapi disana ia bertemu seorang wanita yang langganan bermain malam disana dan wanita itu jatuh hati pada David .. mungkinkah seorang David bakal jatuh cinta sama wanita malam ini? Atau ia masih belum move on sama kekasihnya Vanesha?
All Rights Reserved
Sign up to add David to your library and receive updates
or
#308kathrinajkt48
Content Guidelines
You may also like
Secarik Kertas Pengantar Tidur by Trustno11111
8 parts Ongoing Mature
Kini malam adalah sahabat sekaligus algojo bagi Naka. Seribu sembilan puluh lima kali matahari telah terbenam sejak hari itu-seribu sembilan puluh lima kali kegelapan datang menghampiri, membawa serta kenangan yang tak pernah benar-benar pergi. Dia mencoba segalanya. Minum susu hangat sebelum tidur. Menghitung domba hingga angka yang tak masuk akal. Bahkan meminum pil tidur yang membuat kepalanya berat seperti batu. Tapi tak satu pun berhasil mengusir bayangan itu-bayangan seorang wanita dengan senyum yang dulu mampu menerangi kegelapannya. "Tuhan," desisnya malam ini, suaranya parau seperti kertas yang tergores. "Aku mohon... biarkan aku tidur tanpa mimpi. Hanya untuk sekali ini saja." Bantalnya basah sebelum ia menyadari air mata yang mengalir. Tangannya mencengkeram erat-erat kain itu, seolah takut suara hatinya yang pecah akan terdengar oleh dunia. Tiga tahun. Waktu yang cukup untuk menyembuhkan luka, kata orang. Tapi mengapa lukanya justru semakin dalam? Bertemu Vanya dulu seperti menemukan oasis di tengah gurun kehidupan. Wanita itu memberinya warna-warna yang tak pernah ia kenal sebelumnya-kuning cerah tawa mereka di Bromo, biru tenang obrolan larut malam, merah jambu pipi Vanya saat marah. Tapi sekarang? Semua berubah menjadi abu-abu. Kenangan itu berubah menjadi kutukan. Setiap kali ia menutup mata, yang terlihat adalah wajah Vanya yang hancur saat terakhir kali mereka bertemu. "Kalau ini yang terbaik untukmu, Nak, aku ikhlas." Dan kebodohan-oh, kebodohannya yang tak termaafkan! Malam ini, Naka menyerah. Dia mengambil buku kecil yang tersembunyi di bawah bantal-saksi bisu dari semua penyesalan yang tak terucap. Halamannya sudah keriput oleh air mata dan jari-jari yang gemetar. Naka menutup buku itu perlahan, seperti menyimpan kembali potongan jiwanya yang tercecer. Di luar jendela, Jakarta masih berdenyut dengan lampu-lampunya yang tak pernah tidur. Tapi di kamar ini, yang ada hanya seorang lelaki dan malam yang tak pernah benar-benar berakhir.
You may also like
Slide 1 of 8
Secarik Kertas Pengantar Tidur cover
STILL SINGLE cover
Aku Tak Bisa Mendengar Penyesalanmu cover
Gadis Bukan Perawan [ Complete ] cover
Revenge [End] cover
Devil Inside Him cover
Stay With You.. - Myungzy √ cover
Love Like Square cover

Secarik Kertas Pengantar Tidur

8 parts Ongoing Mature

Kini malam adalah sahabat sekaligus algojo bagi Naka. Seribu sembilan puluh lima kali matahari telah terbenam sejak hari itu-seribu sembilan puluh lima kali kegelapan datang menghampiri, membawa serta kenangan yang tak pernah benar-benar pergi. Dia mencoba segalanya. Minum susu hangat sebelum tidur. Menghitung domba hingga angka yang tak masuk akal. Bahkan meminum pil tidur yang membuat kepalanya berat seperti batu. Tapi tak satu pun berhasil mengusir bayangan itu-bayangan seorang wanita dengan senyum yang dulu mampu menerangi kegelapannya. "Tuhan," desisnya malam ini, suaranya parau seperti kertas yang tergores. "Aku mohon... biarkan aku tidur tanpa mimpi. Hanya untuk sekali ini saja." Bantalnya basah sebelum ia menyadari air mata yang mengalir. Tangannya mencengkeram erat-erat kain itu, seolah takut suara hatinya yang pecah akan terdengar oleh dunia. Tiga tahun. Waktu yang cukup untuk menyembuhkan luka, kata orang. Tapi mengapa lukanya justru semakin dalam? Bertemu Vanya dulu seperti menemukan oasis di tengah gurun kehidupan. Wanita itu memberinya warna-warna yang tak pernah ia kenal sebelumnya-kuning cerah tawa mereka di Bromo, biru tenang obrolan larut malam, merah jambu pipi Vanya saat marah. Tapi sekarang? Semua berubah menjadi abu-abu. Kenangan itu berubah menjadi kutukan. Setiap kali ia menutup mata, yang terlihat adalah wajah Vanya yang hancur saat terakhir kali mereka bertemu. "Kalau ini yang terbaik untukmu, Nak, aku ikhlas." Dan kebodohan-oh, kebodohannya yang tak termaafkan! Malam ini, Naka menyerah. Dia mengambil buku kecil yang tersembunyi di bawah bantal-saksi bisu dari semua penyesalan yang tak terucap. Halamannya sudah keriput oleh air mata dan jari-jari yang gemetar. Naka menutup buku itu perlahan, seperti menyimpan kembali potongan jiwanya yang tercecer. Di luar jendela, Jakarta masih berdenyut dengan lampu-lampunya yang tak pernah tidur. Tapi di kamar ini, yang ada hanya seorang lelaki dan malam yang tak pernah benar-benar berakhir.