Tujuh Luka Satu Arti

Tujuh Luka Satu Arti

  • WpView
    Reads 203
  • WpVote
    Votes 16
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Sep 7, 2025
Tiga murid pindahan dan empat siswa lama bertemu di SMA Mahardika 2, dipertemukan bukan oleh takdir, tapi oleh proyek kelompok yang tak bisa mereka tolak. Mereka baru saling kenal, namun ada satu hal yang diam-diam mereka bawa dari masa lalu-kehilangan kepercayaan terhadap orang lain. Mahendra siregar, Rayhan Alvarendra, Jeano mahardika, Candra pratama wijaya, Jendra Alexander, Arsa Alvarendra, dan Kalvin Liuson, masing-masing memikul luka yang dalam. Bagi mereka, membangun hubungan bukan hal yang mudah. Tapi dalam diam, mereka mulai menyadari bahwa luka mereka mungkin punya arti... jika mereka cukup berani untuk percaya sekali lagi. Mahendra: "Kepercayaan? Itu cuma jembatan yang ujungnya pengkhianatan." Rayhan: "Aku belum pernah punya teman... jadi aku nggak tahu caranya percaya orang lain." Jeano: "Lo nggak akan ngomong soal kepercayaan kalau lo pernah ditinggal pas lagi jatuh-jatuhnya." Candra: "Aku belajar satu hal: kepercayaan itu hal paling mudah dirusak orang dekat." Jendra: "Dulu aku percaya sama seseorang... sekarang aku cuma pura-pura bisa percaya siapa pun." Arsa: "Setelah dia meninggal dan semuanya nyalahin aku, kata 'percaya' rasanya cuma sisa trauma." Kelvin: "Aku telat nyadar sahabatku sakit... dan aku nyalahin diri sendiri karena terlalu percaya semuanya bakal baik-baik aja."
All Rights Reserved
#340
kebencian
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • KARAFERNELIA
  • GRANDSON'S EYANG MUHSIN [ NCT DREAM] End
  • Sergio | Haechan
  • Jejak Yang Tak Terhapus (Mark Lee)
  • Kemana Arah Pulang?
  • GEVRONZ
  • [NCT DREAM] Seven Boys In My Life || arasweetstrawberry ✔
  • Renjun- NCT DREAM
  • Harsa Namun Lara

Cerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu. "Lu mending keluar dari kamar gue sekarang juga! Lu cuma ganggu gue, tau nggak? Bicara yang penting-penting aja, jangan cuman bikin ribut!" ujarnya dengan emosi memuncak. Bian, yang sudah lelah dengan suasana tegang, menjawab dengan nada kesal, "Biasa aja napa sih? Iya, iya, gue keluar. Gue nggak akan ganggu lo lagi." Dengan geram, Bian membuka pintu dengan keras dan menutupnya sampai bergetar. Kamar itu kini hening. Raka berdiri diam, meresapi kesunyian yang menggigit. Di sudut kamar, dia membiarkan air mata menetes perlahan, wajahnya tersembunyi di balik tangan. Dalam isak tangisnya, dia berbisik, "Gue nggak benci, gue cuma kangen. Gue pengen banget ngerasain pelukan dari sosok ayah, tapi dia udah punya keluarga sendiri, jadi gue nggak bisa ganggu dia." Raka merasa frustasi dan terpuruk, merasakan setiap detik beratnya kepergian dan kekosongan yang ditinggalkan. Seperti jejak langkah yang meninggalkan bekas, kenangan itu terus menghantui dan menyisakan luka dalam hati.

More details
WpActionLinkContent Guidelines